Sabtu, 18 April 2026
Di Tengah Gelombang
Siapa pun yang pernah menyeberang dengan perahu kecil tahu betapa berbeda rasa air ketika angin mulai kencang. Permukaan yang tadinya tenang berubah menjadi punggung-punggung gelombang. Perahu terasa rapuh, pantai terasa jauh, dan hati diam-diam bertanya apakah akan sampai. Di saat seperti itu, kegelapan membuat segalanya terasa lebih menakutkan.
Kemarin murid-murid menyaksikan Yesus mengenyangkan lima ribu orang di darat. Hari ini mereka sendirian di danau, dalam gelap, sementara laut bergelora karena angin kencang, dan Yesus belum juga datang. Sesudah mendayung dua tiga mil dengan susah payah, mereka melihat Dia berjalan di atas air mendekati perahu, dan ketakutanlah mereka.
Perhatikan bahwa Yesus datang bukan sesudah badai reda, melainkan justru di tengah badai. Ia tidak menunggu air tenang untuk menjumpai mereka. Ia melangkah tepat di atas apa yang paling mereka takuti. Dan kata-Nya singkat: Aku ini, jangan takut. Begitu mereka mau menerima Dia ke dalam perahu, seketika perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju.
Ada badai yang tidak Tuhan singkirkan lebih dahulu dari hidup kita. Kadang Ia justru datang berjalan di atasnya, menyuruh kita berhenti takut, dan meminta hanya satu hal: naikkanlah Aku ke dalam perahumu. Jarak yang tadinya terasa mustahil bisa tiba-tiba tertempuh ketika Dia sudah ada di dalam.
Tuhan, datanglah kepadaku di tengah gelombang yang menakutkanku. Aku menerima-Mu ke dalam perahu hidupku; antarkanlah aku sampai ke pantai. Amin.