‹ Semua renungan

Rabu, 8 April 2026

Hati yang Berkobar

Perjalanan jauh dengan berjalan kaki punya keanehannya sendiri. Ketika kaki melangkah dan mulut bercerita, hati sering ikut terbuka. Banyak percakapan paling jujur dalam hidup justru terjadi bukan di ruang tamu yang berhadap-hadapan, melainkan di jalan, ketika dua orang sama-sama menghadap ke depan, berbagi langkah dan berbagi diam.

Dua murid berjalan pulang ke Emaus dengan hati yang muram. Harapan mereka baru saja hancur di Yerusalem; mereka bahkan berkata dengan kecewa, padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan Israel. Di tengah jalan seorang asing bergabung dan bertanya apa yang mereka percakapkan. Mereka tidak mengenali-Nya, sebab ada sesuatu yang menghalangi mata mereka. Namun orang asing itu mulai menjelaskan seluruh Kitab Suci, mulai dari Musa dan para nabi, tentang bagaimana Mesias memang harus menderita lebih dahulu sebelum masuk ke dalam kemuliaan-Nya.

Yang menarik, sebelum mata mereka terbuka, hati mereka lebih dahulu bergerak. Sesudah semuanya berlalu, mereka berkata seorang kepada yang lain: bukankah hati kita berkobar-kobar ketika Ia berbicara dengan kita di jalan dan menerangkan Kitab Suci kepada kita? Firman yang dijelaskan dengan benar memang menyalakan sesuatu di dalam dada, jauh sebelum akal sepenuhnya paham. Ada kehangatan yang mendahului pengertian.

Kita sering mengira iman selalu datang lewat kepala lebih dulu, baru kemudian turun ke hati. Kedua murid Emaus mengalami arah yang sebaliknya. Hati mereka menghangat oleh Firman, dan penghangatan itulah yang perlahan menuntun mereka kepada pengenalan akan Dia. Boleh jadi kebekuan rohani yang kadang kita rasakan bukan karena kita kurang pintar atau kurang membaca, melainkan karena sudah terlalu lama kita tidak sungguh-sungguh mendengarkan Kitab Suci diterangkan dengan hati.

Petrus dalam bacaan pertama menunjukkan apa jadinya hati yang sudah berkobar. Kepada orang lumpuh di Gerbang Indah ia berkata: emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai kuberikan kepadamu; demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah. Hati yang dihangatkan Firman tidak berhenti sebagai perasaan hangat yang nyaman. Ia selalu berakhir dengan tangan yang terulur dan memberi.

Maka masa Paskah ini mengajak kita kembali ke jalan Emaus. Mungkin yang kita butuhkan bukan pengalaman rohani yang luar biasa, melainkan kesediaan berjalan sambil mendengarkan Dia menerangkan sabda-Nya, sampai hati yang beku ini menghangat lagi.

Tuhan, nyalakanlah kembali hatiku yang dingin lewat sabda-Mu. Berjalanlah bersamaku, terangkanlah Kitab Suci bagiku, dan jadikanlah aku pendengar yang berkobar, sampai iman itu turun menjadi perbuatan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →