Kamis, 19 Maret 2026
Bapak di Balik Kamera
Coba buka album keluarga. Di banyak rumah, ada satu orang yang jarang muncul dalam foto: bapak. Bukan karena tidak hadir, justru karena dialah yang memotret. Ia ada di setiap gambar tanpa terlihat, berdiri di balik kamera, memastikan semua orang lain masuk bingkai.
Santo Yusuf, yang pestanya kita rayakan hari ini, adalah bapak di balik kamera itu. Injil tidak menyimpan satu pun kalimat yang keluar dari mulutnya. Tidak ada pidato, tidak ada doa panjang yang dicatat. Yang dicatat hanya perbuatannya: sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. Titik. Iman yang tidak banyak bicara, tetapi berjalan.
Padahal beban yang dipikulnya tidak ringan. Tunangannya mengandung, dan ia tahu anak itu bukan anaknya. Matius menyebutnya orang yang tulus hati: ia tidak mau mencemarkan nama Maria di muka umum, maka ia berniat mundur diam-diam. Rencana yang sudah matang itu dibatalkan oleh satu mimpi. Dan Yusuf, tukang kayu yang terbiasa mengukur dua kali sebelum memotong, berani memotong seluruh rencananya sendiri demi rencana Allah.
Bacaan pertama dan kedua memperlihatkan betapa besar bingkai yang dijaga orang sederhana ini. Kepada Daud dijanjikan keturunan yang takhtanya kokoh selama-lamanya. Kepada Abraham dijanjikan keturunan sebanyak bangsa-bangsa, dan Paulus menulis bahwa Abraham berharap sekalipun tidak ada dasar untuk berharap. Dua janji raksasa itu bertemu dan digenapi lewat rumah tangga kecil di Nazaret, yang atapnya dipelihara oleh keringat seorang tukang kayu.
Dunia kita gaduh oleh orang yang ingin tampil. Prestasi diumumkan, kebaikan dipamerkan, suara paling keras dianggap paling benar. Yusuf menawarkan jalan lain: kebesaran yang tidak membutuhkan panggung. Menghidupi keluarga, melindungi yang dipercayakan, taat kepada Allah dalam keputusan-keputusan sunyi yang tidak dilihat siapa pun. Gereja menghormatinya sebagai pelindung Gereja semesta. Justru dia yang tidak meninggalkan satu kalimat pun.
Barangkali di sekitar kita ada Yusuf-Yusuf kecil: bapak yang berangkat sebelum anak bangun, ibu yang doanya tidak pernah diumumkan, orang-orang yang setia tanpa sorotan. Hari ini hari yang baik untuk berterima kasih kepada mereka. Dan hari yang baik untuk bertanya kepada diri sendiri: beranikah kita berbuat baik tanpa harus ikut masuk bingkai?
Santo Yusuf, doakanlah kami. Tuhan, ajari aku iman yang bekerja dalam diam, setia dalam sunyi, dan taat tanpa menunggu tepuk tangan. Amin.