Selasa, 10 Maret 2026
Buku Hutang
Warung kecil di kampung biasanya punya buku tulis lusuh berisi catatan hutang. Nama, tanggal, jumlah. Ada pelanggan yang hutangnya menahun sampai halamannya penuh. Sesekali pemilik warung menghela napas, lalu mencoret satu nama. Sudahlah. Direlakan.
Perumpamaan hari ini bercerita tentang dua catatan hutang yang tidak seimbang. Seorang hamba berhutang sepuluh ribu talenta kepada raja, jumlah yang mustahil dilunasi tujuh turunan. Ia memohon, dan raja menghapus semuanya. Satu coretan, lunas. Tetapi keluar dari ruangan itu, ia mencekik kawan yang berhutang seratus dinar kepadanya, upah kerja beberapa bulan saja.
Kita geram membacanya, sampai sadar bahwa itu potret kita. Kepada Allah kita berhutang hidup, napas, dan pengampunan yang tak terhitung. Kepada sesama kita menagih sakit hati sampai lunas: mengungkit yang lama, mendiamkan bertahun-tahun, menunggu dia menunduk dulu.
Petrus bertanya, sampai tujuh kalikah mengampuni? Jawaban Yesus, tujuh puluh kali tujuh kali, sebenarnya berarti: berhentilah menghitung. Buku hutangmu sendiri sudah dicoret oleh Raja. Masakan halaman untuk saudaramu masih kau simpan rapat-rapat?
Bapa, Engkau telah mencoret hutangku yang mustahil kubayar. Beri aku hati yang rela mencoret catatan sakit hatiku terhadap sesama. Amin.