‹ Semua renungan

Minggu, 8 Maret 2026

Timba yang Ditinggal

Di banyak kampung, sumur adalah pusat kehidupan. Orang datang membawa timba dan ember, menimba untuk masak, mandi, mencuci. Pekerjaan itu tidak pernah selesai. Hari ini menimba, besok haus lagi. Ember yang penuh pagi hari akan kosong lagi sebelum malam.

Di pinggir sumur seperti itulah, di Sikhar, terjadi percakapan terpanjang Yesus yang dicatat Injil. Lawan bicara-Nya bukan imam atau ahli kitab, melainkan seorang perempuan Samaria yang datang menimba pukul dua belas siang, jam paling terik, jam ketika sumur biasanya sepi. Mungkin ia memang menghindari orang. Lima suami, dan yang sekarang bukan suaminya. Hidupnya penuh bisik-bisik tetangga.

Yesus memulai bukan dengan khotbah, melainkan dengan meminta: "Berilah Aku minum." Sang Guru yang letih menempatkan diri sebagai yang membutuhkan. Dari satu permintaan air, percakapan turun makin dalam seperti timba yang diulurkan: dari air sumur ke air hidup, dari soal suami ke soal hati, dari gunung tempat menyembah ke penyembahan dalam roh dan kebenaran. Akhirnya perempuan itu menyebut Mesias, dan Yesus menjawab terang-terangan: "Akulah Dia."

Lalu Injil mencatat satu detail kecil yang mudah terlewat: perempuan itu meninggalkan tempayannya, lalu pergi ke kota. Tempayan, alasan ia datang ke sumur, ditinggal begitu saja. Ia datang untuk air yang membuat haus lagi, dan pulang membawa air yang memancar sampai hidup kekal. Barang yang tadinya paling penting mendadak boleh tertinggal.

Bacaan pertama menunjukkan gambar sebaliknya. Israel yang haus di Masa dan Meriba bersungut-sungut dan menggugat: adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak? Haus yang sama bisa melahirkan dua hal: gugatan atau percakapan. Bangsa itu memilih bertengkar. Perempuan Samaria memilih bercakap-cakap, dan pulang dengan hati penuh.

Kita semua datang ke sumur masing-masing setiap hari. Gaji, hiburan, pujian, belanja. Semuanya perlu, tetapi semuanya jenis air yang itu: barangsiapa meminumnya akan haus lagi. Kalau ada dahaga yang tidak kunjung reda meski ember hidup kita penuh, mungkin itu bukan tanda kurang menimba. Mungkin itu undangan untuk duduk di pinggir sumur dan berbicara dengan Dia yang lebih dulu haus menunggu kita.

Prapaskah menyediakan waktu untuk percakapan itu. Dan siapa tahu, seperti perempuan Sikhar, kita pulang dengan meninggalkan beberapa tempayan lama.

Tuhan Yesus, Engkau mengenal seluruh hidupku dan tetap mengajakku bercakap-cakap. Berilah aku air hidup itu, supaya hausku yang paling dalam menemukan mata airnya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →