Sabtu, 7 Maret 2026
Bunyi Langkah Pulang
Menjelang hari raya, jalan-jalan ke kampung selalu padat. Orang rela bermacet-macet berjam-jam demi satu hal yang sulit dijelaskan: pulang. Orang Jawa punya ungkapan mangan ora mangan kumpul. Makan tidak makan, yang penting berkumpul. Rumah menarik kita seperti magnet yang tidak pernah lemah.
Anak bungsu dalam perumpamaan hari ini pergi sejauh mungkin dari magnet itu. Ia menjual bagiannya, berfoya-foya, lalu jatuh sampai memandangi makanan babi. Di titik itulah ia teringat rumah. Menariknya, ia pulang dengan naskah yang sudah dihafal: jadikanlah aku salah seorang upahan bapa.
Tetapi naskah itu tidak sempat selesai diucapkan. Ketika ia masih jauh, ayahnya sudah berlari. Merangkul. Mencium. Jubah terbaik, cincin, sepatu, anak lembu tambun. Nabi Mikha melukiskan Allah yang sama: yang melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.
Banyak orang menunda pulang kepada Tuhan karena sibuk menyusun kalimat yang pantas. Menunggu diri lebih baik dulu, lebih bersih dulu. Padahal yang ditunggu Bapa bukan pidato kita. Yang ditunggu adalah bunyi langkah kita di ujung jalan.
Bapa, aku sering tersesat jauh dari rumah-Mu. Sambutlah langkahku yang pulang hari ini, meski kata-kataku belum tersusun rapi. Amin.