‹ Semua renungan

Rabu, 18 Februari 2026

Abu dari Daun Palma

Siapa pernah memasak dengan kayu bakar tahu apa itu abu: sisa paling akhir, ketika api sudah selesai dan bara sudah dingin. Tidak bisa dibakar lagi, tidak bisa dimakan. Abu adalah bahasa paling jujur tentang kefanaan.

Hari ini dahi kita ditandai abu, dan abu itu bukan abu sembarang. Ia dibakar dari daun palma Minggu Palma tahun lalu. Daun yang dulu kita lambai-lambaikan sambil berseru hosana kini menjadi debu di dahi. Sorak-sorai kemarin bisa menjadi abu hari ini. Kemenangan, pujian, prestasi: semuanya bisa. Orang Jawa menyimpan kesadaran itu dalam ungkapan pendek: urip mung mampir ngombe, hidup hanyalah singgah untuk minum.

Tetapi Rabu Abu bukan hari untuk murung. Dengarkanlah nada bacaan-bacaannya. Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, seru Allah lewat nabi Yoel, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Lalu kalimat yang layak digarisbawahi: koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu. Orang zaman itu menyobek baju sebagai tanda duka. Sobekan baju bisa dipertontonkan; sobekan hati hanya Allah yang melihat.

Injil meneruskan arah yang sama ke tiga latihan Prapaskah: sedekah, doa, puasa. Ketiganya baik, dan ketiganya bisa busuk oleh satu hal yang sama: supaya dilihat orang. Maka Yesus mengulang satu kata seperti lonceng: tersembunyi. Sedekah yang tersembunyi. Doa di kamar dengan pintu tertutup. Puasa dengan muka dicuci dan kepala diminyaki. Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Empat puluh hari ke depan bukanlah lomba penampilan rohani, melainkan kerja senyap di ruang yang hanya diketahui Allah. Paulus memberi tenggatnya: sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; hari ini adalah hari penyelamatan itu. Bukan besok, bukan nanti kalau sempat.

Maka baiklah kita mulai dengan tiga keputusan kecil dan tersembunyi: satu kelekatan yang dipuasakan, satu waktu doa yang dijaga, satu sedekah yang tidak diceritakan kepada siapa pun. Biar kecil, asal keluar dari hati yang terkoyak dan mau berbalik.

Allah yang berlimpah kasih setia, aku ini debu yang Kaukasihi. Koyakkanlah hatiku, jangan hanya kebiasaanku, dan tuntunlah aku pulang kepada-Mu sepanjang empat puluh hari ini. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →