Kamis, 19 Februari 2026
Persimpangan
Setiap pengendara pernah berhenti di persimpangan tanpa papan penunjuk. Dua jalan sama-sama terbuka. Yang menentukan bukan jalannya, melainkan pilihan kita, dan pilihan itu tidak bisa diwakilkan.
Di hari-hari awal Prapaskah ini, Musa berdiri di depan umatnya seperti di sebuah persimpangan besar: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Lalu ia hampir memohon: pilihlah kehidupan. Menarik bahwa Allah tidak memilihkan. Ia menghadapkan, menjelaskan akibatnya, lalu menghormati kebebasan manusia. Kasih memang tidak pernah memaksa.
Yesus dalam Injil mempertajam paradoksnya: barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku akan menyelamatkannya. Jalan yang tampak seperti kehidupan, yakni menggenggam segalanya untuk diri sendiri, ternyata jalan mati. Jalan yang tampak seperti kehilangan, yakni menyangkal diri dan memikul salib, ternyata jalan hidup.
Perhatikan kata setiap hari. Salib yang dimaksud jarang berupa penderitaan besar yang datang sekali seumur hidup. Lebih sering ia berupa persimpangan-persimpangan kecil hari ini: jujur atau aman, mengalah atau menang sendiri, melayani atau dilayani.
Tuhan, di setiap persimpangan kecil hari ini, condongkan hatiku memilih jalan-Mu, jalan kehidupan. Amin.