Senin, 16 Februari 2026
Otot Iman
Orang yang rajin berolahraga tahu rahasianya: otot tidak tumbuh pada hari yang nyaman. Ia justru tumbuh setelah dibebani, robek halus, lalu pulih lebih kuat. Beban yang selalu dihindari membuat tubuh lemah; beban yang ditakar membuatnya kokoh.
Yakobus membuka suratnya dengan kalimat yang nyaris tidak masuk akal: anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Kebahagiaan? Ia segera menjelaskan: ujian terhadap imanmu menghasilkan ketekunan, dan ketekunan menghasilkan buah yang matang. Iman ternyata seperti otot. Ia tidak dibesarkan oleh hidup yang serba lancar.
Yang dilarang Yakobus bukan merasakan berat, melainkan mendua hati: bimbang seperti gelombang laut yang diombang-ambingkan angin. Orang bimbang bukan orang yang bertanya, melainkan orang yang bersandar ke dua tempat sekaligus, sehingga tidak pernah bersandar sungguh-sungguh.
Dalam Injil, orang Farisi meminta tanda dari sorga, dan Yesus menolak sambil mengeluh dalam hati-Nya. Mereka ingin bukti dulu, baru percaya. Padahal iman yang menunggu bukti bukanlah iman; itu transaksi. Iman yang sejati berani memikul hari yang berat sambil tetap berkata: Engkau baik.
Tuhan, ketika beban datang, jangan segera angkat semuanya; kuatkan dulu imanku memikulnya bersama-Mu. Amin.