‹ Semua renungan

Minggu, 15 Februari 2026

Matahari untuk Semua Atap

Matahari pagi tidak pernah memilih atap. Ia menyinari rumah orang saleh dan rumah orang yang kemarin menipu tetangganya. Hujan pun turun tanpa meminta daftar nama warga yang baik. Kita sudah terlalu biasa dengan kenyataan ini sampai lupa betapa anehnya: alam bekerja tanpa dendam.

Minggu lalu kita mendengar Yesus menarik hukum sampai ke akar hati: jangan hanya tidak membunuh, jangan memelihara amarah; biarlah ya berarti ya. Hari ini Ia tiba di puncak yang membuat pendengar-Nya menahan napas: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Alasannya bukan supaya kita tampak mulia, melainkan supaya kita mirip Bapa, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Mata ganti mata terdengar adil, dan memang itu kemajuan pada zamannya: pembalasan dibatasi supaya setimpal, tidak boleh lebih. Tetapi keadilan setimpal tidak pernah menghentikan lingkaran. Mata dibalas mata, dan dunia pelan-pelan buta. Yesus menawarkan jalan keluar dari lingkaran itu: pipi kiri, jubah, mil kedua. Itu bukan kelemahan, melainkan kebebasan. Orang yang membalas masih dikendalikan musuhnya; orang yang mengampuni sudah merdeka.

Bacaan pertama menunjukkan bahwa panggilan ini tidak baru. Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus, firman-Nya kepada Musa, dan langsung diterjemahkan konkret: jangan membenci saudaramu dalam hatimu, jangan menuntut balas, jangan menaruh dendam. Kudus, dalam kamus Allah, ternyata bukan soal menjauh dari dunia, melainkan soal cara memperlakukan sesama.

Bagaimana mungkin manusia sanggup? Paulus memberi kuncinya: tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kamu? Kasih kepada musuh memang bukan hasil kerja otot manusia. Ia buah dari Roh yang tinggal di dalam.

Mulailah dari yang paling bisa: doa. Sebutkan nama orang yang menyakitimu di hadapan Tuhan, satu kalimat saja, tanpa syarat. Doa itu mungkin belum mengubah dia. Tetapi ia pasti mulai mengubah kita, sebab sulit terus membenci orang yang setiap hari kita doakan.

Bapa, Engkau menyinari semua atap tanpa pilih kasih. Curahkan Roh-Mu, supaya aku sanggup mendoakan orang yang paling sulit kukasihi. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →