‹ Semua renungan

Minggu, 8 Februari 2026

Ya yang Berdiri Sendiri

Di pasar, makin ragu barangnya, makin banyak sumpahnya. Sumpah, ini harga modal. Demi langit, masih baru. Pembeli yang berpengalaman justru waspada: orang yang jujur biasanya tidak perlu bersumpah.

Minggu lalu Yesus menyebut kita garam dan terang dunia. Hari ini, masih di bukit yang sama, Ia berbicara panjang tentang hukum. Ia datang bukan untuk meniadakan Taurat, melainkan menggenapinya; satu iota pun tidak akan gugur. Lalu berturut-turut: kamu telah mendengar, tetapi Aku berkata kepadamu. Jangan membunuh, kata hukum lama; Yesus menariknya sampai ke amarah dan kata penghinaan. Jangan berzinah, kata hukum lama; Yesus menariknya sampai ke tatapan mata. Jangan bersumpah palsu; Yesus malah berkata: jangan bersumpah sama sekali. Jika ya, katakan ya; jika tidak, katakan tidak.

Apa yang sedang dikerjakan Yesus? Ia memindahkan hukum dari kertas ke jantung. Hukum tertulis hanya menjangkau tangan; Yesus mengejar akarnya. Pembunuhan berakar pada amarah yang dipelihara. Perzinahan berakar pada tatapan yang dibiarkan. Dan sumpah hanya dibutuhkan oleh dunia yang kata-katanya sudah tidak bisa dipercaya. Murid Kristus diminta hidup sedemikian jujur sehingga ya-nya berdiri sendiri, tanpa perlu disangga langit dan bumi.

Ini terdengar berat, dan Sirakh dalam bacaan pertama menutup pintu untuk berkelit: api dan air ditaruh Tuhan di hadapanmu; kepada yang kaukehendaki, ulurkanlah tanganmu. Manusia diberi kebebasan sungguhan, maka pilihan kita pun sungguhan. Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik, tulisnya. Tidak ada dosa yang bisa kita alamatkan ke takdir.

Tetapi jangan keliru: ini bukan seruan menjadi manusia serba tegang yang mengawasi dirinya siang malam. Paulus menyebutnya hikmat yang tersembunyi, yang disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia. Hati yang jatuh cinta tidak merasa diawasi; ia justru ingin utuh. Orang yang sungguh mencintai tidak membutuhkan undang-undang untuk setia.

Pekan ini ujian kecilnya sederhana. Saat hendak berjanji, jangan tambahkan apa-apa. Saat hendak marah, tunggu sehari. Lalu periksa: masih bisakah kata ya kita dipercaya orang tanpa jaminan?

Tuhan, tuliskan hukum-Mu bukan di kertasku melainkan di jantungku, supaya ya-ku jujur dan tidak-ku jernih. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →