Jumat, 6 Februari 2026
Suara yang Tak Terpenggal
Kemarin dua belas murid diutus dan mulai mewartakan tobat. Hari ini Markus mencatat gemanya sampai ke istana: raja Herodes pun mendengar tentang Yesus, dan hatinya langsung gelisah oleh kenangan lama.
Herodes sebenarnya senang mendengarkan Yohanes Pembaptis. Hatinya selalu terombang-ambing, tetapi ia merasa senang juga mendengarkan dia. Ada suara benar yang menyapa nuraninya. Suara itu akhirnya kalah oleh satu pesta, satu sumpah gegabah, dan rasa takut kehilangan muka di depan para tamu. Kepala sang nabi berakhir di atas talam.
Gengsi memang pembunuh yang sopan. Ia tidak tampak kejam, hanya berbisik: jangan tarik ucapanmu, malu dilihat orang. Berapa banyak kebenaran kita korbankan demi menjaga muka?
Namun kebenaran tidak ikut terpenggal. Suara Yohanes justru menghantui Herodes: dia sudah bangkit, katanya. Hari ini Gereja mengenang Paulus Miki dan kawan-kawannya, dua puluh enam martir yang disalibkan di Nagasaki. Dari atas salibnya Paulus Miki masih berkhotbah dan mengampuni para algojonya. Suara itu pun tak terbungkam; benihnya tumbuh menjadi Gereja yang bertahan ratusan tahun tanpa imam. Suara kebenaran bisa dipenjara dan dipenggal. Yang tidak bisa: dipadamkan.
Tuhan, ketika gengsi menawar nuraniku, beri aku keberanian Yohanes dan kelembutan Paulus Miki. Amin.