‹ Semua renungan

Selasa, 3 Februari 2026

Dua Ayah

Perang dimenangkan, takhta selamat, pemberontakan padam. Tetapi Daud tidak bertanya soal kemenangan. Satu-satunya pertanyaannya kepada pembawa kabar: selamatkah Absalom, orang muda itu? Absalom, anak yang justru memberontak dan mengejar nyawanya.

Ketika kabar kematian itu tiba, kemenangan berubah menjadi perkabungan. Raja naik ke anjung pintu gerbang dan menangis: anakku Absalom, anakku, anakku! Kalau boleh, aku mati menggantikan engkau. Sejarah mencatat banyak raja. Sedikit sekali yang menangis seperti itu untuk anak yang mengkhianatinya.

Injil hari ini juga menghadirkan seorang ayah. Yairus, kepala rumah ibadat, tersungkur di kaki Yesus demi anak perempuannya yang hampir mati. Jabatan dan gengsi ditanggalkan di depan umum. Ayah yang mencinta memang tidak sempat memikirkan wibawa.

Dua ayah itu seperti jendela kecil untuk mengintip hati Allah. Kepada kita yang sering memberontak, Allah tidak menghitung menang dan kalah. Ia menghitung anak. Dan apa yang diucapkan Daud dalam tangisnya sungguh dikerjakan Allah dalam Yesus: Ia benar-benar mati menggantikan kita.

Bapa, ketika aku jauh dan melawan, ingatkan aku bahwa Engkau tidak pernah berhenti menyebutku anak. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →