‹ Semua renungan

Senin, 2 Februari 2026

Mata yang Setia Menunggu

Setiap sore ada saja orang tua yang duduk di teras, menunggu anaknya pulang kerja. Ia hafal bunyi motor anaknya dari kejauhan. Penantian macam itu tidak melelahkan. Justru itulah yang membuatnya tetap hidup.

Simeon menunggu jauh lebih lama. Seumur hidupnya ia menantikan penghiburan bagi Israel. Kenisah itu besar, orang lalu-lalang membawa ribuan bayi setiap tahun. Tetapi hari itu, dituntun Roh Kudus, ia tahu: bayi yang digendong pasangan sederhana dengan persembahan dua ekor burung merpati itu adalah keselamatan yang dinantikannya. Ia menatang Anak itu dan berkata: sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera.

Bagaimana Simeon bisa mengenali-Nya? Tidak ada cahaya dari langit, tidak ada iring-iringan. Mata yang setia menunggu rupanya diberi kemampuan melihat apa yang orang lain lewatkan. Hana juga begitu: puluhan tahun berpuasa dan berdoa di Bait Allah, dan ia tidak salah mengenali.

Hari ini Gereja memberkati lilin-lilin, sebab Anak itu disebut terang bagi bangsa-bangsa. Terang itu masuk pelan, digendong, tak berbunyi. Jangan-jangan Tuhan juga sering lewat dalam hidup kita dengan cara sesederhana itu, dan kita sedang tidak menunggu.

Tuhan, berilah aku mata Simeon: setia menunggu dan jeli mengenali kedatangan-Mu yang sederhana. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →