Kamis, 29 Januari 2026
Duduk di Hadapan Tuhan
Kemarin kita mendengar Tuhan membalik rencana Daud: bukan engkau yang membangun rumah bagi-Ku, Akulah yang membangun keturunanmu. Bagaimana tanggapan Daud? Satu kalimat pembuka yang layak direnungkan pelan-pelan: lalu masuklah raja Daud, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN.
Duduk. Bukan menyusun usulan baru, bukan membalas dengan daftar rencana lain. Raja yang sibuk itu duduk. Dan dari duduk itu mengalirlah doa yang jernih: siapakah aku ini, ya Tuhan, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?
Kita hampir tidak pernah duduk seperti itu. Duduk kita selalu duduk sambil: sambil makan, sambil menonton, sambil memikirkan besok. Duduk di hadapan Tuhan adalah jenis duduk yang lain: berhenti penuh, menghadap penuh, membiarkan diri dipandang.
Dari posisi itu Daud bisa melihat hidupnya dengan benar: semuanya pemberian. Ia tidak lagi menghitung jasanya; ia menghitung kebaikan Tuhan. Doa syukur yang sejati memang hanya lahir dari orang yang berhenti cukup lama untuk menoleh ke belakang.
Injil menyambungnya: pelita mesti ditaruh di atas kaki dian. Hidup yang tahu berterima kasih akan memancar dengan sendirinya.
Hari ini, maukah kita mencuri sepuluh menit hanya untuk duduk di hadapan-Nya dan bertanya seperti Daud: siapakah aku, sampai Engkau sebaik ini?
Tuhan, ini aku, duduk di hadapan-Mu. Terima kasih untuk semua yang tidak sempat kuhitung. Amin.