Selasa, 27 Januari 2026
Raja yang Lupa Wibawa
Ada orang yang tidak bisa lagi menari sejak punya jabatan. Duduknya diatur, senyumnya ditakar, langkahnya dijaga. Wibawa menjadi pakaian yang tidak boleh kusut sedikit pun.
Daud tidak begitu. Ketika tabut Allah diarak masuk ke kotanya, raja Israel itu menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga. Bukan tarian anggun yang terlatih. Sekuat tenaga: berkeringat, melompat, tidak menghitung pandangan orang. Hari itu Daud bukan raja yang menjaga citra; ia anak yang bergembira karena Bapanya datang ke rumah.
Sukacita sejati memang sulit berdampingan dengan gengsi. Orang yang terlalu sibuk menjaga wibawa biasanya kehilangan kemampuan bersukacita. Ibadahnya pun bisa ikut kaku: datang, duduk, pulang, tanpa satu bagian hati pun yang sungguh menari.
Perayaan Daud juga tidak berhenti pada dirinya. Sesudah mempersembahkan korban, ia memberkati bangsa itu dan membagikan kepada setiap orang seketul roti bundar, sekerat daging, dan sepotong kue kismis. Sukacita yang benar selalu tumpah keluar, menjadi berkat dan makanan bagi orang lain.
Injil hari ini menyebut keluarga baru Yesus: barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku dan ibu-Ku. Di keluarga itu tidak ada kursi kehormatan yang perlu dijaga dengan gengsi.
Kapan terakhir kali kita bersukacita di hadapan Tuhan tanpa malu-malu? Bukan sukacita yang sopan dan setengah hati, melainkan yang sekuat tenaga?
Tuhan, tanggalkan gengsi yang membekukan hatiku. Ajari aku bersukacita di hadapan-Mu seperti Daud. Amin.