‹ Semua renungan

Minggu, 25 Januari 2026

Putar Balik

Di jalan besar, putar balik bukan perkara mudah. Ada pembatas beton berkilo-kilometer panjangnya. Orang yang sadar salah arah pun sering meneruskan saja, sebab berputar terasa merepotkan dan memalukan. Salah arah yang dipelihara lama-lama terasa seperti arah yang benar.

Hari ini Gereja membaca kisah putar balik yang paling terkenal dalam sejarah: Saulus dari Tarsus. Ia bukan orang jahat menurut ukurannya sendiri. Justru sebaliknya: terpelajar, dididik dengan teliti di bawah Gamaliel, giat bekerja bagi Allah. Ia menganiaya para pengikut Yesus bukan karena membenci Allah, melainkan karena yakin sedang membela Allah. Inilah yang paling menggetarkan dari kisah ini: orang bisa berlari sekencang-kencangnya ke arah yang salah sambil merasa paling benar.

Di tengah jalan ke Damsyik, cahaya memancar. Saulus rebah. Lalu suara itu: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? Perhatikan kata terakhirnya. Bukan mengapa engkau menganiaya mereka. Aku. Yesus menyamakan diri-Nya dengan orang-orang yang dianiaya. Menyakiti murid-Nya berarti menyakiti Dia. Kalimat itu sekaligus peringatan bagi kita: setiap kali kita melukai sesama, di ujung lukanya ada Kristus.

Yang menarik, cahaya itu tidak menyelesaikan segalanya. Saulus buta dan harus dituntun masuk kota. Penglihatannya justru dipulihkan lewat manusia biasa bernama Ananias, yang datang dan menyapanya dengan sapaan yang mengharukan: Saulus, saudaraku. Kepada bekas penganiaya, kata pertama yang diucapkan Gereja adalah saudara. Pertobatan besar hampir selalu membutuhkan dua hal: perjumpaan dengan Tuhan dan uluran tangan komunitas yang mau menerima.

Kata tobat sendiri berarti kembali, berbalik arah. Bukan sekadar menyesal sambil meneruskan jalan yang sama, melainkan sungguh memutar kemudi. Saulus yang berangkat membawa surat penangkapan pulang membawa Injil. Perubahan arah itu kelak sampai ke ujung-ujung bumi, sesuai perintah Yesus dalam Injil hari ini: pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

Kisah ini melarang kita memvonis siapa pun sebagai tidak mungkin berubah. Orang yang hari ini paling keras menentang bisa menjadi rasul yang paling berkobar. Dan kisah ini juga bertanya kepada kita masing-masing: di ruas mana hidupku sedang melaju kencang ke arah yang keliru, sambil merasa benar? Pembatas jalannya memang beton. Tetapi cahaya dari langit sudah terbukti bisa menembusnya.

Tuhan Yesus, rebahkan aku bila aku berlari ke arah yang salah, dan kirimkan bagiku seorang Ananias yang menyebutku saudara. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →