Sabtu, 24 Januari 2026
Menangisi Musuh
Kabar itu semestinya kabar baik bagi Daud: Saul mati. Orang yang bertahun-tahun mengejarnya, melemparinya tombak, memaksanya hidup berpindah-pindah gua, kini tiada. Jalan ke takhta terbuka. Kalau Daud mengadakan syukuran, semua orang akan memaklumi.
Daud justru mengoyakkan pakaiannya. Ia meratap, menangis, dan berpuasa sampai matahari terbenam. Lalu menggubah nyanyian duka yang indah bagi Saul dan Yonatan: betapa gugur para pahlawan. Tidak ada satu baris pun yang mengungkit kejahatan Saul kepadanya. Yang diingatnya justru yang baik: Saul yang mendandani anak-anak perempuan Israel dengan pakaian mewah dari kain kirmizi.
Menangisi musuh. Mengingat kebaikan orang yang menyakiti kita. Adakah hati yang selembut itu? Kebesaran Daud di sini melampaui kemenangannya atas Goliat. Mengalahkan raksasa di luar lebih mudah daripada mengalahkan dendam di dalam.
Hari ini Gereja mengenang Fransiskus dari Sales, uskup yang terkenal justru karena kelembutannya di zaman yang keras. Kalimatnya sering dikutip: setetes madu menarik lebih banyak lalat daripada setong cuka. Ia menghadapi lawan-lawannya tanpa kepahitan, dan justru itulah yang memenangkan banyak hati.
Dendam kepada siapa yang masih kita simpan rapat? Mungkin latihannya bisa dimulai seperti Daud: mengingat satu saja kebaikan orang itu.
Tuhan, lembutkan hatiku terhadap orang yang pernah melukaiku. Ajari aku berkabung, bukan bersorak. Amin.