Rabu, 21 Januari 2026
Lima Batu Licin
Di hadapan Goliat, semua ukuran normal kehilangan arti. Prajurit berpengalaman gemetar. Raja Saul sendiri tawar hati. Lalu majulah seorang gembala muda yang bahkan tidak kuat memakai baju zirah. Modalnya umban dan lima batu licin dari dasar sungai.
Yang membedakan Daud bukan senjatanya, melainkan cara pandangnya. Semua orang mengukur Goliat dengan tinggi badan mereka sendiri: kita kecil, dia besar. Daud mengukurnya dengan Tuhan: engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam. Goliat yang sama, hasil ukur yang berbeda.
Hari ini Gereja mengenang Santa Agnes, gadis Roma berumur kira-kira dua belas tahun yang menghadapi Goliatnya sendiri: kekaisaran yang memaksanya menyangkal Kristus. Ia menolak, dan membayar dengan nyawanya. Anak sekecil itu mengalahkan kerajaan sebesar itu. Sejarah membuktikan: nama Agnes dikenang penuh kasih, nama para penekannya nyaris terlupa.
Kita semua punya Goliat: penyakit yang tidak kunjung pergi, utang, kecanduan, ketakutan yang bertahun-tahun. Dan kita sudah hafal rasanya menjadi pasukan Israel: berdiri gemetar di lereng, menghitung tinggi raksasa setiap pagi.
Barangkali yang perlu diubah bukan ukuran raksasanya, melainkan alat ukurnya. Goliat yang diukur dari Tuhan akan tampak sebagaimana adanya: besar, tetapi bukan yang terbesar.
Tuhan semesta alam, di hadapan raksasaku hari ini, jadilah Engkau alat ukurku. Amin.