‹ Semua renungan

Kamis, 22 Januari 2026

Beribu dan Berlaksa

Semua berawal dari sebuah lagu. Para perempuan menari menyambut pasukan yang pulang, menyanyi berbalas-balasan: Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa. Sejak hari itu, kata Kitab Suci, Saul selalu mendengki Daud.

Perhatikan: Daud tidak merebut apa-apa dari Saul. Takhta masih milik Saul, istana masih miliknya, kemenangan Daud justru menyelamatkan kerajaannya. Yang mencuri damai Saul bukan Daud, melainkan sebuah perbandingan. Beribu-ribu dilawankan dengan berlaksa-laksa. Dengki memang tidak membutuhkan kehilangan; ia hanya membutuhkan pembanding.

Kita mengenal lagu semacam itu dalam banyak versi. Nilai rapor anak tetangga. Rumah kawan seangkatan. Jabatan teman sekantor. Hidup kita sebenarnya baik-baik saja, sampai sebuah perbandingan lewat dan tiba-tiba semuanya terasa kurang. Dengki masuk lewat telinga, menetap di hati, lalu mengatur mata: sejak itu Saul memandang Daud dengan curiga, apa pun yang dilakukan Daud.

Di tengah kisah gelap itu ada satu cahaya: Yonatan. Anak Saul, pewaris takhta, orang yang paling berhak iri kepada Daud. Justru ia yang membela Daud di depan ayahnya. Yonatan membuktikan bahwa dengki bukan nasib; ia pilihan.

Lagu perbandingan mana yang belakangan ini paling mengganggu tidur kita? Dan maukah kita, seperti Yonatan, memilih mengasihi?

Tuhan, sumbat telingaku dari lagu perbandingan, dan penuhi hatiku dengan rasa cukup. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →