Senin, 19 Januari 2026
Taat Separuh
Anak disuruh membereskan kamar. Setengah jam kemudian ia melapor: sudah beres. Ternyata mainan disorong ke kolong, baju kotor disembunyikan di balik pintu. Beres separuh, dan separuhnya lagi disembunyikan dengan rapi.
Saul melakukan hal serupa dalam ukuran raja. Diperintahkan menumpas seluruh jarahan, ia menyisakan kambing domba dan lembu yang terbaik. Ketika ditegur Samuel, jawabannya terdengar saleh: rakyat mengambilnya untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu. Ketidaktaatan dibungkus bahasa rohani. Inilah bagian yang paling mengerikan: dosa yang memakai jubah ibadah.
Jawaban Samuel menjadi salah satu kalimat terbesar Perjanjian Lama: mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan. Tuhan tidak bisa disogok dengan persembahan. Yang diminta-Nya bukan sisa jarahan kita, melainkan telinga dan hati kita.
Kita pun pandai berdalih rohani. Mengabaikan keluarga dengan alasan sibuk pelayanan. Menunda minta maaf sambil rajin berdoa. Memberi sumbangan dari uang yang tidak jujur asal-usulnya. Semua tampak seperti korban bakaran, padahal aslinya kambing domba Amalek yang seharusnya tidak kita simpan.
Injil hari ini berbicara tentang anggur baru yang membutuhkan kantong baru. Ketaatan pun begitu: tidak bisa separuh, tidak bisa ditambal-tambal.
Adakah perintah Tuhan yang selama ini kita kerjakan separuh, lalu kita tutupi dengan bahasa yang saleh?
Tuhan, aku tidak mau menyogok-Mu dengan persembahan. Ajari aku mendengarkan sampai tuntas. Amin.