Minggu, 18 Januari 2026
Terang dari Pinggiran
Setiap negeri punya daerah yang jarang disebut. Tidak masuk peta wisata, tidak diperhitungkan dalam berita. Kalau daerah itu disebut, orang mengangkat alis: memangnya ada apa di sana?
Galilea adalah daerah semacam itu. Orang Yerusalem memandangnya sebelah mata: wilayah campuran, jauh dari Bait Allah, dilalui pedagang asing dari segala bangsa. Yesaya menyebutnya terus terang: tanah Zebulon dan tanah Naftali, wilayah bangsa-bangsa lain, negeri yang terimpit dan suram.
Justru di situ Yesus memulai. Minggu lalu kita mendengar Ia dibaptis di Yordan dan dinyatakan sebagai Anak yang dikasihi. Sesudah Yohanes ditangkap, Ia tidak menuju ibu kota untuk membuka pusat gerakan di tempat yang strategis. Ia menyingkir ke Galilea, diam di Kapernaum, kota nelayan di tepi danau. Matius melihatnya sebagai penggenapan nubuat Yesaya: bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar.
Terang itu tidak terbit dari menara, melainkan dari pinggiran. Dan murid-murid pertama-Nya pun bukan lulusan akademi Yerusalem, melainkan nelayan yang sedang menebarkan jala: Simon, Andreas, Yakobus, Yohanes. Orang-orang dengan tangan kasar dan nama pasaran. Kepada merekalah kalimat itu diucapkan: mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.
Ini pola yang terus berulang dalam sejarah Allah. Betlehem yang kecil, Nazaret yang diragukan, Galilea yang dipandang rendah, nelayan yang tidak bersekolah. Allah gemar memulai dari tempat yang tidak diperhitungkan, seakan mau berkata: terang-Ku tidak membutuhkan panggung; panggung-Ku justru tempat-tempat yang gelap.
Kabar baiknya bagi kita: tidak ada sudut hidup yang terlalu pinggiran untuk didatangi-Nya. Rumah tangga yang sedang suram, usaha yang terimpit, masa lalu yang membuat kita merasa seperti wilayah campuran. Justru di situ Ia suka berjalan.
Tetapi ada peringatan juga, dari bacaan kedua. Jemaat Korintus yang sudah menerima terang malah sibuk berpecah: aku golongan Paulus, aku golongan Apolos, aku golongan Kefas. Paulus menegur tajam: adakah Kristus terbagi-bagi? Terang yang datang untuk menyatukan bangsa-bangsa jangan sampai kita pecah menjadi kapling-kapling golongan. Gereja bukan kumpulan kubu, melainkan satu tubuh yang sama-sama disinari.
Maka dua pertanyaan untuk minggu ini. Pertama: wilayah gelap mana dalam hidupku yang perlu kubuka bagi Terang itu? Kedua: kubu mana yang diam-diam kubangun, yang membuat terang itu terpecah di antara kami?
Tuhan Yesus, Terang dari Galilea, masukilah sudut-sudut hidupku yang paling jarang disebut. Dan jagalah kami supaya tidak membagi-bagi Engkau. Amin.