‹ Semua renungan

Selasa, 13 Januari 2026

Doa Tanpa Suara

Kemarin kita meninggalkan Hana menangis di meja makan, tidak mau makan, tidak dipahami suaminya sendiri. Hari ini ia bangkit. Ia tidak mengamuk kepada Penina, tidak menyalahkan Elkana. Ia berdiri, pergi ke rumah TUHAN, dan menumpahkan seluruh isi hatinya di sana.

Cara berdoanya mengharukan: bibirnya bergerak-gerak, suaranya tidak terdengar. Doa yang terlalu dalam untuk diucapkan. Sampai imam Eli salah sangka, mengiranya mabuk. Sudah sedih, dituduh pula. Tetapi Hana menjawab dengan tenang: aku bukan mabuk, aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN.

Mencurahkan. Kata yang tepat. Seperti orang menuang air dari kendi sampai tetes penghabisan. Banyak doa kita masih berupa percikan: sopan, teratur, secukupnya. Hana menuang semuanya, termasuk pahitnya, termasuk cemburunya, termasuk marahnya. Dan Tuhan tidak tersinggung. Justru doa sepenuh itulah yang diingat-Nya.

Sesudah berdoa, keadaan Hana belum berubah. Kandungannya masih tertutup. Tetapi Kitab Suci mencatat perubahan lain: ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi. Jawaban belum datang; damai sudah. Itulah keajaiban doa yang jujur: ia mengubah pendoanya lebih dulu sebelum mengubah keadaan.

Apa yang selama ini kita tahan, yang belum pernah kita curahkan habis di hadapan Tuhan?

Tuhan, terimalah doaku yang tidak beraturan ini. Kutuang semuanya di hadapan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →