Senin, 12 Januari 2026
Tangis di Meja Makan
Meja makan semestinya tempat paling hangat di rumah. Tetapi kadang justru di situ kesedihan paling terasa. Ada yang mengunyah dalam diam. Ada yang tidak mau makan sama sekali.
Begitulah Hana. Setiap tahun keluarganya pergi beribadah ke Silo, dan setiap tahun pula hatinya disakiti. Penina, madunya, terus mengungkit rahim Hana yang tertutup. Hana menangis dan tidak mau makan. Elkana, suaminya, mencoba menghibur: bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki? Niatnya baik. Tetapi kalimat itu meleset. Ia menghibur dengan menghitung dirinya sendiri, bukan dengan memasuki kesedihan istrinya.
Kita sering seperti Elkana. Melihat orang bersedih, kita buru-buru menutup kesedihannya dengan kalimat penghibur yang gampang: sudahlah, masih banyak yang lebih susah; jangan menangis, masih ada aku. Tidak salah, tetapi tidak menyembuhkan. Orang yang berduka jarang membutuhkan jawaban cepat. Ia membutuhkan telinga yang mau mendengarkan sampai selesai.
Kisah Hana baru dimulai hari ini, dan Tuhan belum kelihatan bertindak. Kita sengaja dibiarkan menginap dulu dalam kesedihannya. Sebab begitulah hidup: jawaban Tuhan jarang datang secepat keinginan kita.
Di sekitar kita mungkin ada Hana: orang yang tangisnya tidak dipahami serumah. Hari ini, mampukah kita duduk di sampingnya tanpa buru-buru berkhotbah?
Tuhan, jadikan aku pendengar yang sabar bagi mereka yang menangis di dekatku. Amin.