‹ Semua renungan

Minggu, 11 Januari 2026

Turun ke Air yang Sama

Minggu lalu kita berjalan bersama para majus, menyembah bayi Betlehem yang dicari orang-orang bijak dari Timur. Hari ini Injil melompat kira-kira tiga puluh tahun. Bayi itu sudah dewasa, dan penampakan-Nya yang berikut sungguh di luar dugaan: Ia berdiri di tepi sungai Yordan, di tengah antrean orang berdosa yang menunggu dibaptis.

Kita tahu rasanya antre. Di puskesmas, di loket, di pangkalan gas. Antrean menyamaratakan orang: siapa pun engkau, ambil nomor, tunggu giliran. Dan di Yordan hari itu, antrean berisi pemungut cukai, serdadu, orang-orang yang hidupnya berantakan. Lalu di tengah mereka, Yesus. Tanpa pengawal, tanpa jalur khusus.

Yohanes sendiri kaget dan mencegah: akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku? Logikanya benar. Yang tidak berdosa tidak membutuhkan baptisan tobat. Tetapi Yesus menjawab: biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.

Kata baptis berasal dari kata Yunani baptizein, mencelupkan. Dan itulah yang terjadi dalam arti yang paling penuh: Allah mencelupkan diri ke dalam air yang sama dengan manusia berdosa. Bukan memercik dari jauh. Masuk, basah, sepenuhnya. Solidaritas yang tidak setengah-setengah.

Yesaya sudah melukiskan gaya hamba Allah ini: ia tidak berteriak di jalan, buluh yang patah terkulai tidak diputuskannya, sumbu yang pudar nyalanya tidak dipadamkannya. Bukan gaya penguasa yang menggebrak, melainkan gaya perawat yang berhati-hati dengan barang rapuh. Petrus meringkasnya dalam satu kalimat yang indah: Ia berjalan berkeliling sambil berbuat baik.

Dan justru pada saat Yesus berdiri paling rendah, di air bersama para pendosa, langit terbuka. Roh turun seperti merpati. Suara Bapa terdengar: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. Perhatikan: pujian itu turun sebelum Yesus membuat satu mukjizat pun. Belum ada orang buta dicelikkan, belum ada roti digandakan. Kasih Bapa tidak menunggu prestasi.

Ini kabar besar bagi kita yang dibaptis. Pada baptisan kita, kalimat yang sama diucapkan atas kita: engkau anak-Ku yang Kukasihi. Sebelum kita berjasa apa-apa. Banyak orang menghabiskan umur untuk mengejar pengakuan, padahal pengakuan yang paling penting sudah diberikan sejak air menyentuh kepalanya.

Masa Natal ditutup hari ini. Kita memasuki hari-hari biasa. Bekalnya satu kalimat dari langit: engkau anak yang dikasihi. Cukupkah kalimat itu bagi kita?

Bapa, terima kasih, aku Kauakui sebagai anak sebelum aku sempat membuktikan apa-apa. Ajarilah aku hidup dari kasih itu, bukan mengejar-ngejarnya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →