‹ Semua renungan

Kamis, 8 Januari 2026

Buah Tangan

Orang kita punya adat yang halus: tidak enak berkunjung dengan tangan kosong. Ke rumah saudara membawa pisang, menengok orang sakit membawa roti, pulang kampung membawa oleh-oleh. Buah tangan namanya. Nilainya bukan pada harganya, melainkan pada hati yang menyertainya.

Para majus juga tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Orang-orang tua dahulu suka menafsirkannya: emas untuk raja, kemenyan untuk Allah, mur untuk Dia yang akan wafat. Tiga barang itu seperti sudah membaca seluruh hidup Yesus.

Tetapi ada yang lebih sederhana dari segala tafsir: mereka memberi yang terbaik yang mereka punya. Bukan sisa perjalanan. Bukan barang yang kebetulan terbawa. Harta yang disiapkan dari rumah, dibawa ribuan kilometer, untuk seorang bayi yang baru pertama kali mereka jumpai.

Kita pun setiap hari datang kepada Tuhan. Pertanyaannya, apa buah tangan kita? Sering kali Tuhan mendapat sisa: sisa waktu setelah semua urusan, sisa tenaga menjelang tidur, sisa perhatian. Emas untuk rencana sendiri, kemenyan untuk gengsi sendiri; untuk Tuhan, menit-menit terakhir sebelum mengantuk.

Padahal yang diminta-Nya bukan emas. Waktu yang masih segar, hati yang masih penuh, itulah persembahan yang berharga di mata-Nya.

Tuhan, hari ini aku tidak mau memberi-Mu sisa. Terimalah bagian terbaik dari hariku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →