Rabu, 7 Januari 2026
Bayi dan Takhta
Kursi hanyalah kayu bersandaran. Tetapi begitu diberi nama kursi jabatan, ia berubah menjadi barang keramat. Orang bisa gelisah bertahun-tahun karenanya, menjaganya siang malam jangan sampai ada yang mendekat.
Herodes contohnya. Mendengar kabar tentang raja yang baru dilahirkan, terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Aneh sebenarnya. Yang lahir seorang bayi. Belum bisa bicara, belum bisa berjalan. Tentaranya tidak ada. Tetapi satu bayi di Betlehem cukup untuk membuat seisi istana gemetar.
Ketakutan Herodes membuka rahasianya sendiri: ia tahu takhtanya bukan miliknya yang sah. Orang yang genggamannya terlalu erat biasanya sedang menggenggam sesuatu yang bukan haknya. Makin tidak sah, makin keras genggamannya.
Kita mungkin tidak punya istana. Tetapi kita punya kursi masing-masing: posisi di kantor, wibawa di rumah, nama baik di lingkungan, rasa paling dibutuhkan di keluarga. Dan diam-diam kita bisa seperti Herodes: menganggap setiap orang baru sebagai ancaman, membaca kehadiran orang lain sebagai bahaya bagi kursi kita.
Para majus menunjukkan sikap sebaliknya. Mereka datang bukan untuk mengamankan apa-apa. Mereka datang untuk sujud. Dan orang yang datang untuk sujud selalu pulang lebih kaya daripada orang yang sibuk menjaga kursi.
Kursi mana yang paling mudah membuat kita cemas?
Tuhan, longgarkan genggamanku pada kursi-kursiku, supaya tanganku bebas untuk menyembah-Mu. Amin.