Kamis, 25 Desember 2031
Yang Menopang, Digendong
Siapa yang pernah menggendong bayi yang baru lahir tahu betapa rapuhnya makhluk itu. Kepalanya belum bisa tegak sendiri. Kalau tak ditopang telapak tangan, kepala itu akan terkulai. Bayi yang baru lahir tak sanggup menahan bahkan berat kepalanya sendiri. Ia sepenuhnya bergantung pada tangan yang menggendongnya.
Hari ini Gereja merayakan sebuah kemustahilan yang manis. Surat kepada orang Ibrani berkata tentang Sang Anak bahwa Ia "menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan." Segala yang ada. Bintang-bintang, samudra, gunung, dan setiap napas kita ditopang oleh firman-Nya. Tanpa Dia, semesta akan terkulai seperti kepala bayi yang tak disangga.
Dan justru Dia itulah, malam ini, yang terbaring sebagai bayi di palungan. Tangan yang menopang seluruh alam kini menjadi tangan mungil yang belum bisa menggenggam apa-apa. Kepala yang menyangga segala bintang kini menjadi kepala kecil yang harus disangga telapak tangan Maria. Yang menopang, kini digendong.
Inilah yang membuat Natal begitu mengguncang bila kita berhenti sejenak untuk memikirkannya. Injil Yohanes membuka dengan ketinggian yang memusingkan, "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." Segala sesuatu dijadikan oleh Dia. Lalu, dengan satu kalimat, ketinggian itu turun sampai ke tanah, "Firman itu telah menjadi manusia."
Sang Pencipta memasuki ciptaan-Nya. Bukan sebagai raja dengan pengawal, melainkan sebagai bayi yang menangis, yang perlu disusui dan dibungkus supaya tidak kedinginan. Allah yang tak terbatas memilih dibatasi oleh sebuah tubuh mungil.
Mengapa? Barangkali supaya kita tidak lagi takut mendekat. Allah yang menopang alam semesta bisa terasa terlalu jauh, terlalu besar untuk kita ajak bicara. Tetapi seorang bayi? Seorang bayi mengundang kita mendekat, menunduk, mengulurkan jari. Di Betlehem, Allah membuat diri-Nya cukup kecil untuk digendong siapa saja yang mau.
Nabi Yesaya sudah menubuatkan bahwa segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita. Dan keselamatan itu, ketika akhirnya tiba, ternyata bisa dilihat dengan mata biasa, disentuh dengan tangan biasa, digendong seperti bayi mana pun.
Hari ini, di tengah segala kesibukan merayakan, ada satu ajakan sederhana. Datanglah mendekat kepada bayi itu. Sebab Ia yang menopang seluruh hidupmu ingin, malam ini, ditopang oleh sambutanmu.
Tuhan Yesus, Engkau yang menopang segala yang ada, memilih menjadi bayi yang digendong. Ajari aku mendekat tanpa takut, dan menyambut-Mu dalam hidupku yang kecil ini. Selamat datang, ya Raja. Amin.