Rabu, 3 Desember 2031
Perjamuan yang Merantau
Orang Indonesia mengerti betul kata merantau. Meninggalkan kampung, menyeberang laut, mencari hidup di tanah yang asing. Ada yang pergi membawa dagangan, ada yang pergi membawa ijazah. Fransiskus Xaverius pergi jauh ke Timur, sampai ke Maluku dan menjelang Tiongkok, membawa satu barang yang tak muat di koper: sebuah undangan makan.
Yesaya bernubuat tentang perjamuan di gunung Sion, "bagi segala bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk." Perhatikan kata segala. Meja itu tidak dipesan hanya untuk satu suku, satu bahasa, satu warna kulit. Sejak mula, Allah sudah membayangkan tamu yang datang dari ujung-ujung bumi.
Xaverius seolah hanya menyusul rencana yang lebih tua dari dirinya. Ia tidak menciptakan undangan itu. Ia hanya berlari mengantarkannya ke alamat-alamat yang jauh, sebelum keburu gelap. Ia membakar dirinya sendiri dalam pekerjaan itu, sampai tubuhnya rebah di sebuah pulau kecil, sendirian.
Kita sering mengira iman adalah urusan menjaga milik sendiri. Padahal perjamuan yang bergemuk itu tidak akan penuh selama masih ada kursi kosong. Siapa alamat jauh yang menunggu undangan lewat mulut kita?
Tuhan, Engkau menyediakan meja untuk segala bangsa. Beranikan aku mengantar undangan-Mu sampai ke tempat yang tak nyaman bagiku. Amin.