‹ Semua renungan

Minggu, 23 November 2031

Firdaus untuk Seorang Penjahat

Kalau kita membayangkan seorang raja, yang muncul biasanya istana, mahkota emas, singgasana, barisan pengawal. Kuasa raja diukur dari berapa banyak orang yang tunduk kepadanya dan berapa luas wilayah yang ia kuasai. Maka Hari Raya Kristus Raja hari ini terasa aneh, sebab Injil yang dibacakan justru menampilkan seorang Raja yang tergantung di kayu salib.

Tidak ada mahkota emas, hanya mahkota duri. Tidak ada singgasana, hanya dua batang kayu. Di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang dimaksudkan sebagai ejekan: Inilah raja orang Yahudi. Semua orang mengolok-olok. Kalau Engkau raja, selamatkanlah diri-Mu. Bagi mereka, raja yang tidak bisa menyelamatkan diri sendiri bukanlah raja.

Tetapi justru di sanalah Raja ini memerintah dengan cara yang tak terbayangkan. Seorang penjahat yang tersalib di sebelah-Nya, di detik-detik terakhir hidupnya, berbisik, Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja. Dan tindakan pertama Sang Raja dari atas takhta salib-Nya bukan menghukum, melainkan mengampuni: hari ini juga engkau akan ada bersama-Ku di dalam Firdaus.

Renungkanlah siapa warga pertama Kerajaan-Nya. Bukan orang saleh, bukan tokoh terhormat, melainkan seorang penjahat yang diadili setimpal dengan perbuatannya. Inilah Raja yang kuasanya diukur bukan dari siapa yang Ia taklukkan, melainkan dari siapa yang Ia ampuni.

Surat kepada jemaat Kolose membuka cakrawala yang jauh lebih luas. Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala ciptaan. Di dalam Dia telah diciptakan segala sesuatu, yang di sorga dan di bumi. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu, dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Raja yang tergantung tak berdaya di Golgota itu ternyata Dia yang menopang seluruh jagat raya.

Dan bagaimana Raja sebesar itu mendamaikan dunia? Bukan dengan pedang. Paulus menulis, oleh darah salib Kristus, Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. Takhta-Nya adalah salib. Kuasa-Nya adalah kasih yang memberi diri sampai habis. Dahulu rakyat mengurapi Daud menjadi raja karena ia gembala yang memimpin mereka; Kristus adalah Gembala yang lebih besar, yang menyerahkan nyawa bagi domba-domba-Nya.

Maka mengakui Kristus sebagai Raja bukan sekadar menyematkan gelar. Ia pertanyaan tentang takhta di hati kita: siapa yang sungguh memerintah di sana? Dan kalau seorang penjahat pun masih sempat diselamatkan pada napas terakhirnya, tidak ada seorang pun dari kita yang terlambat untuk berpaling kepada Raja ini.

Yesus, Raja kami, ingatlah akan kami seperti Engkau mengingat penjahat yang bertobat itu. Perintahlah di hati kami, dan bawalah kami masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →