Rabu, 5 November 2031
Satu Utang yang Boleh
Banyak orang punya prinsip sederhana soal uang: jangan sampai berutang. Utang membuat tidur tidak nyenyak, membuat awal bulan terasa sempit, membuat kita terikat pada orang lain. Maka orang bekerja keras supaya bisa berkata dengan lega, aku tidak berutang apa-apa kepada siapa pun.
Paulus setuju, tetapi ia menyisakan satu pengecualian yang menarik. Janganlah kamu berutang apa-apa kepada siapa pun juga, tulisnya, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Ada satu utang yang justru tidak boleh kita lunasi sampai habis, yaitu utang kasih. Sebab kasih, kata Paulus, adalah kegenapan seluruh hukum Taurat.
Aneh membayangkan kasih sebagai utang. Tetapi coba pikirkan. Utang uang, sekali lunas, selesai; hubungan pun putus. Kalau kasih diperlakukan begitu, kita akan berkata, aku sudah cukup baik pada orang itu, sekarang impas, tidak wajib lagi. Justru itu yang ditolak Paulus. Kasih tidak punya tanggal pelunasan.
Injil hari ini menuntut hitungan yang jujur dari seorang calon murid: duduklah dahulu, buatlah anggaran, apakah sanggup menyelesaikan menara itu. Iman memang perlu diperhitungkan. Tetapi ada satu pos yang tidak boleh kita anggap lunas, yaitu mengasihi sesama, hari demi hari, tanpa merasa sudah cukup.
Adakah orang yang kepadanya aku merasa sudah impas, sehingga aku berhenti mengasihi?
Tuhan, biarlah utang kasih ini terus kubawa seumur hidup, dan jangan pernah kuanggap lunas. Amin.