Selasa, 4 November 2031
Nama yang Bertahan
Di banyak tempat kita menemukan nama yang digores orang di bangku taman, di kulit pohon, di tembok tua: inisial, tahun, kadang tanda hati. Semua seperti berteriak satu hal yang sama, aku pernah ada di sini, tolong jangan lupakan aku.
Ayub merindukan hal serupa, tetapi lebih dalam. Ah, katanya, kiranya perkataanku dicatat, terpahat dengan besi pengukir pada gunung batu untuk selama-lamanya. Ia takut lenyap tanpa bekas. Namun di tengah kerinduan itu ia melompat ke sesuatu yang jauh lebih kokoh daripada batu mana pun: tetapi aku tahu, Penebusku hidup.
Di situlah persoalan kita dijawab. Nama yang digores di pohon akan pudar seiring kulitnya tumbuh. Tetapi Yesus berkata dalam Injil, dari semua yang diberikan Bapa kepada-Ku, jangan ada yang hilang. Bukan kita yang harus mengabadikan nama sendiri. Ada Dia yang menyimpannya supaya tidak ada yang tercecer.
Santo Carolus Borromeus tidak sibuk mengukir namanya. Ia menghabiskan hidupnya membaharui Gereja dan merawat orang sakit ketika wabah melanda. Justru karena itu namanya dikenang sampai kini, bukan karena ia berusaha dikenang.
Kita pun boleh berhenti cemas akan dilupakan. Ada Tangan yang menggenggam, dan genggaman itu tidak pernah longgar.
Tuhan, aku tidak perlu mengukir namaku di mana-mana, sebab Engkau sudah menuliskannya dalam telapak tangan-Mu. Simpanlah aku supaya jangan hilang. Amin.