‹ Semua renungan

Minggu, 26 Oktober 2031

Doa yang Menembus Awan

Ada orang yang setiap kali berbicara selalu menyebut jasa-jasanya, dan kita diam-diam lelah mendengarnya. Ada orang yang bicaranya sedikit, datang dengan segan, tetapi kata-katanya jujur, dan justru dialah yang kita percaya. Telinga manusia saja bisa membedakan; apalagi telinga Allah.

Minggu lalu Yesus mengajar kita bertekun dalam doa lewat kisah janda yang tak jemu-jemu. Minggu ini Ia melanjutkan dengan soal yang lebih dalam: bukan lagi berapa lama kita berdoa, melainkan dengan sikap apa. Dua orang naik ke Bait Allah. Yang satu Farisi, rajin puasa dua kali seminggu, tertib memberi persepuluhan. Yang lain pemungut cukai, pekerjaan yang di mata umum setara pengkhianat dan pemeras.

Doa si Farisi sebenarnya laporan prestasi: aku tidak seperti perampok, tidak seperti pezinah, dan, ini yang paling gawat, tidak seperti pemungut cukai ini. Doanya tidak membutuhkan Allah; ia hanya membutuhkan panggung. Lukas mencatat ia berdoa dalam hatinya, dan memang doanya berputar-putar di situ saja, tidak naik ke mana-mana.

Pemungut cukai berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah, memukul diri: 'Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.' Tujuh kata yang kosong dari jasa, penuh dengan kebutuhan. Dan Yesus menutup dengan putusan yang menggemparkan para pendengar-Nya: orang inilah yang pulang sebagai orang yang dibenarkan Allah.

Bacaan pertama sudah membisikkan rahasianya jauh sebelumnya: 'Doa orang miskin menembus awan.' Bukan karena Allah pilih kasih, melainkan karena Tuhan adalah Hakim yang tidak memihak. Suap tidak mempan pada-Nya, dan daftar prestasi ternyata sejenis suap yang halus. Yang menembus awan bukan doa yang paling fasih, melainkan doa yang paling jujur.

Lalu bagaimana dengan Paulus dalam bacaan kedua? Bukankah ia juga menghitung: aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah memelihara iman? Bedanya pada arah pandang. Paulus tidak membandingkan diri dengan orang lain untuk merasa unggul; ia menantikan mahkota dari Hakim yang adil, dan buru-buru menambahkan: mahkota itu juga bagi semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. Syukur selalu melebarkan hati; kesombongan selalu menyempitkannya.

Minggu ini baiklah kita periksa doa-doa kita. Kalau isi doaku dituliskan, lebih mirip laporan prestasi atau permohonan belas kasihan? Dan ketika aku melirik orang lain di gereja, apakah untuk mendoakannya, atau untuk diam-diam merasa lebih baik darinya?

Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Jadikan tujuh kata itu doa yang paling kuhafal seumur hidupku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →