‹ Semua renungan

Kamis, 23 Oktober 2031

Api yang Memilah

Kemarin Yesus berbicara tentang titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Hari ini kata-kata-Nya makin panas: 'Aku datang untuk melemparkan api ke bumi, dan betapa Kuharapkan api itu telah menyala!' Bukankah Ia Raja Damai? Mengapa justru membawa pertentangan?

Lihatlah api di dapur. Api yang sama melunakkan yang keras dan mengeraskan yang lunak: singkong menjadi empuk, tanah liat menjadi keras. Api tidak pernah membiarkan apa pun tetap seperti semula. Begitulah kehadiran Yesus: tidak bisa ditanggapi dengan biasa-biasa saja. Ada hati yang meleleh, ada yang justru mengeras.

Maka pertentangan itu bukan tujuan, melainkan akibat. Ketika satu orang di rumah sungguh-sungguh bertobat, irama rumah berubah, dan tidak semua orang senang. Damai yang dibawa Yesus bukan damai yang mendiamkan segala hal demi tenang di permukaan. Itu bukan damai; itu pembiaran.

Paulus memakai bahasa upah: upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal. Dua majikan, dua bayaran, dan tidak ada posisi di tengah-tengah. Kalau api Yesus menyentuh hidupku hari ini, bagian mana yang akan meleleh lebih dulu: gengsiku, dendamku, atau rasa nyamanku?

Tuhan, nyalakanlah api-Mu dalam hatiku, dan jangan biarkan aku suam-suam kuku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →