Minggu, 19 Oktober 2031
Tangan yang Ditopang
Pernahkah mengangkat tangan lama-lama? Menit pertama ringan. Menit kelima mulai kesemutan. Menit kesepuluh, tangan itu terasa bukan milik kita lagi. Tubuh kita jujur: bertahan itu berat, dan tidak ada orang yang kuat bertahan sendirian.
Bacaan pertama melukiskannya tanpa malu-malu. Selama Musa mengangkat tangan, Israel menang; begitu tangannya turun, Amalek mendesak. Lalu datang pemandangan yang mengharukan: Musa didudukkan di atas batu, dan Harun serta Hur menopang kedua tangannya, seorang di sisi kiri, seorang di sisi kanan, sampai matahari terbenam. Kemenangan hari itu bukan kemenangan satu orang beriman, melainkan kemenangan iman yang saling menopang.
Minggu lalu kita bertemu satu orang kusta yang kembali untuk bersyukur. Minggu ini Yesus berbicara tentang sisi lain dari doa: bukan doa yang sekali ucap, melainkan doa yang panjang, yang melelahkan, yang menggoda kita untuk berhenti. Maka Ia bercerita tentang seorang janda yang terus-menerus mendatangi hakim yang lalim. Janda itu tidak punya apa-apa. Tidak punya uang suap. Tidak punya kenalan orang dalam. Senjatanya hanya satu: ia datang lagi. Dan hakim yang tidak takut akan Allah itu akhirnya menyerah, bukan karena adil, melainkan karena lelah.
Yesus menutupnya dengan logika sederhana: kalau hakim lalim saja bisa dimenangkan oleh ketekunan, apalagi Bapa yang mengasihi. Lalu Ia membalik persoalannya di ayat terakhir: 'Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?' Allah tidak pernah bosan mendengar. Kitalah yang cepat bosan meminta.
Di bulan Rosario ini, gambaran tangan Musa terasa dekat. Butir-butir rosario yang berulang itu seperti Harun dan Hur: menopang tangan doa kita ketika sudah pegal. Ada hari ketika hati terlalu lelah merangkai kata-kata sendiri; pada hari seperti itu, doa yang dihafal sejak kecil menjadi batu tempat kita duduk. Kita tidak sedang menyerah. Kita sedang ditopang.
Paulus dalam bacaan kedua berpesan kepada Timotius: beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya. Ketekunan yang sama, hanya arahnya keluar. Tekun berdoa dan tekun berbuat baik itu satu tarikan napas.
Maka pertanyaan minggu ini: doa apa yang tangannya sudah kuturunkan karena lelah menunggu jawaban? Dan siapa di sekitarku yang tangannya sedang gemetar, yang bisa kutopang seperti Harun dan Hur, tanpa banyak kata, cukup dengan setia berdiri di sampingnya sampai matahari terbenam?
Tuhan, ketika tanganku turun, kirimkanlah penopang; ketika tangan sesamaku turun, jadikanlah aku penopangnya. Ajari aku berdoa dengan tidak jemu-jemu. Amin.