‹ Semua renungan

Minggu, 28 September 2031

Jurang Selebar Pintu

Berapa jarak antara ruang tamu dan teras? Selebar pintu. Beberapa langkah saja. Tetapi dua dunia bisa hidup di kedua sisinya tanpa pernah bertemu: yang satu kenyang di dalam, yang satu lapar di luar.

Minggu lalu Yesus mengingatkan kita bahwa tidak mungkin mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Hari ini Ia menunjukkan akibatnya lewat kisah yang menusuk. Ada orang kaya berjubah ungu yang setiap hari bersukaria dalam kemewahan. Dan ada Lazarus, pengemis penuh borok, berbaring dekat pintu rumahnya, berharap remah-remah dari mejanya. Perhatikan: dekat pintu. Bukan di kota lain. Jarak mereka hanya selebar pintu.

Lalu keduanya mati, dan segalanya berbalik. Lazarus di pangkuan Abraham, orang kaya menderita di alam maut. Di antara mereka, kata Abraham, terbentang jurang yang tak terseberangi. Dari mana jurang selebar itu berasal? Injil tidak mengatakan orang kaya itu menendang Lazarus atau merampas hartanya. Dosanya lebih sunyi: ia tidak pernah membuka pintu. Jurang di akhirat itu tidak digali sekaligus. Ia digali sedikit demi sedikit, setiap hari, oleh pintu yang tidak pernah dibuka.

Ada satu detail yang membuat kisah ini semakin perih. Di alam maut, orang kaya itu menyebut nama: suruhlah Lazarus. Jadi ia tahu namanya. Ia mengenal pengemis di depan pintunya, dan tetap tidak melakukan apa-apa. Betapa dekatnya pengetahuan bisa hidup berdampingan dengan ketidakpedulian.

Nabi Amos memotret penyakit yang sama pada zamannya: celaka atas orang-orang yang merasa aman, yang berbaring di tempat tidur gading, minum anggur dari bokor, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf. Dosa mereka bukan kebencian. Dosa mereka adalah rasa aman yang membuat hati kebal. Nyaman itu tidak jahat, tetapi ia bisa menjadi kaca gelap: dari dalam, kita berhenti melihat keluar.

Permintaan terakhir orang kaya pun ditolak: kirimlah orang mati untuk memperingatkan saudara-saudaraku. Kata Abraham, ada pada mereka Musa dan para nabi. Kita pun sudah punya lebih dari cukup: Kitab Suci, Ekaristi, ajaran Gereja, dan Lazarus yang nyata di sekitar kita. Yang kurang bukan tanda dari langit. Yang kurang adalah tangan yang memutar gagang pintu.

Paulus berpesan kepada Timotius: kejarlah keadilan, ibadah, kasih, kesabaran. Kata kejarlah menyiratkan gerak, keluar, melangkah. Maka baiklah kita bertanya: siapa Lazarus di depan pintuku? Aku mungkin tahu namanya. Sudahkah pintuku terbuka baginya?

Tuhan, selagi masih ada waktu, bukalah pintuku: mataku bagi yang terluka, mejaku bagi yang lapar, hatiku bagi Lazarus yang Kautaruh di dekatku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →