‹ Semua renungan

Minggu, 7 September 2031

Rumah Mangkrak

Hampir setiap kampung punya satu: rumah mangkrak. Fondasinya sudah dicor, tiang-tiangnya berdiri, besi betonnya mencuat berkarat dimakan hujan. Bertahun-tahun begitu. Orang lewat sambil berbisik, dulu semangat sekali mulainya, ya. Uangnya habis di tengah jalan.

Minggu lalu kita mendengar Yesus di rumah pesta, berbicara tentang memilih tempat terendah dan mengundang mereka yang tak bisa membalas. Hari ini Ia sudah di jalan lagi, dan banyak orang berduyun-duyun mengikuti-Nya. Rombongan besar. Suasana meriah. Justru pada saat seperti itu Yesus berbalik dan berkata keras: siapa yang mau mendirikan menara, duduklah dahulu dan hitunglah anggarannya.

Aneh, bukan? Guru mana yang menyaring pengikutnya justru ketika pengikutnya sedang banyak? Tetapi Yesus tidak sedang mencari kerumunan. Ia mencari murid. Kata murid dalam bahasa kita dipinjam dari bahasa Arab, murid, artinya orang yang menghendaki. Murid bukan orang yang terbawa arus, melainkan orang yang sudah duduk, menghitung, lalu menghendaki dengan sadar.

Hitungannya pun tidak main-main. Yesus berbicara tentang membenci bapa dan ibu, cara bicara orang Semit untuk mengatakan: kasihmu kepada-Ku harus melampaui semua kasih yang lain. Lalu kalimat penutup yang tidak bisa ditawar: siapa yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. Mengikut Yesus itu gratis, tetapi tidak murah. Rahmatnya cuma-cuma, tuntutannya seluruh hidup.

Di sinilah bacaan pertama menolong kita. Kitab Kebijaksanaan bertanya: manusia manakah dapat mengenal rencana Allah? Pikiran kita fana, pertimbangan kita goyah. Maka menghitung anggaran menjadi murid bukan matematika yang bisa kita kerjakan sendirian. Kita perlu meminta hikmat dari atas, seperti kata kitab itu, sebab tanpa kebijaksanaan yang Kauanugerahkan, siapa dapat menyelami kehendak-Mu?

Dan surat kepada Filemon menunjukkan wajah manis dari hitungan yang matang. Paulus mengembalikan Onesimus, budak yang melarikan diri, kepada tuannya. Ia bisa saja memaksa Filemon dengan wibawa rasulnya. Ia memilih meminta, supaya yang baik itu jangan dilakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela. Iman yang sejati memang begitu: dihitung, dipilih, diberikan dengan bebas.

Menara apa yang sedang kubangun bersama Tuhan saat ini? Sudahkah aku duduk menghitungnya, atau aku sekadar ikut ramai lalu berhenti di tengah jalan, menjadi iman yang mangkrak?

Tuhan, berilah aku hikmat-Mu untuk menghitung, dan keberanian untuk menyelesaikan apa yang telah kumulai bersama-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →