‹ Semua renungan

Minggu, 24 Agustus 2031

Pintu Sempit, Ruang Luas

Bayangkan sebuah stadion besar yang bisa memuat puluhan ribu orang, tetapi pintu masuknya sempit, hanya cukup untuk satu orang lewat pada satu waktu. Ruangnya luas tak terkira. Pintunya justru sesak. Dua hal itu benar sekaligus, dan Injil hari ini menaruh keduanya berdampingan.

Seseorang bertanya kepada Yesus, "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?" Pertanyaan yang ingin tahu jumlah, ingin memastikan diri termasuk yang mana. Yesus tidak menjawab dengan angka. Ia menggeser pertanyaannya, "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu."

Pintu yang sesak. Bukan karena Allah pelit membuka, melainkan karena pintu itu hanya bisa dilewati satu per satu, sendiri-sendiri, tanpa bisa menitipkan diri pada rombongan. Tak ada yang bisa masuk atas nama orang lain. Kita tak bisa selamat karena keluarga kita saleh, atau karena kebetulan lahir dalam Gereja. Masing-masing harus melangkah sendiri lewat pintu itu.

Tetapi jangan salah paham seakan pintu sempit berarti ruangnya kecil. Justru sebaliknya. Yesus melanjutkan, "Orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah." Bacaan pertama dari Yesaya sudah menubuatkannya, Allah datang "untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa." Ruang perjamuan itu seluas dunia, penuh oleh segala suku. Pintunya sempit, tetapi aulanya raksasa.

Lalu mengapa pintu itu sesak, kalau Allah menghendaki semua masuk? Bacaan kedua memberi petunjuk. "Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya." Kesempitan pintu adalah didikan, bukan penolakan. Seperti orang yang harus merunduk dan melepas beban untuk lewat celah sempit, kita pun harus melepas kesombongan, dendam, dan kemelekatan yang membuat kita terlalu lebar untuk masuk. Yang menyakitkan sekarang, kata surat itu, kelak "menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai."

Ada peringatan yang tajam juga. Beberapa orang mengira mereka pasti masuk karena "kami telah makan dan minum di hadapan-Mu." Kenal saja tidak cukup, kalau tak pernah sungguh melangkah lewat pintu itu. Keakraban di permukaan bisa menipu.

Maka Injil ini sebenarnya undangan, bukan ancaman. Ruangnya luas, tempatnya banyak, tamunya dari segala penjuru. Yang diminta hanya satu, keberanian melangkah lewat pintu yang menuntut kita melepas beban. Adakah beban yang membuatku terlalu lebar untuk lewat, yang perlu kutinggalkan di depan pintu hari ini?

Tuhan, Engkau membuka ruang seluas dunia bagi segala bangsa. Beri aku keberanian melewati pintu-Mu yang sempit, melepas segala yang menahanku, supaya aku sampai ke perjamuan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →