Selasa, 8 Juli 2031
Berkat yang Membuat Pincang
Tidak semua kemenangan pulang tanpa bekas. Ada orang yang menang dalam pergulatan hidup, tetapi sejak itu jalannya tidak lagi sama: sedikit pincang, membawa cedera yang tak sembuh benar. Justru cedera itulah tanda bahwa ia pernah bertahan.
Semalaman Yakub bergulat dengan seorang yang misterius di tepi sungai. Ia tidak mau melepaskan sebelum diberkati. Ketika fajar menyingsing, ia menang dan mendapat nama baru: Israel, yang bergumul dengan Allah. Tetapi pada saat yang sama pangkal pahanya terpelecok. "Yakub pincang karena pangkal pahanya."
Perhatikan urutannya. Berkat dan luka datang bersamaan, dari perjumpaan yang sama. Yakub keluar dari malam itu sebagai orang yang diberkati sekaligus orang yang pincang.
Barangkali begitulah beberapa berkat terbesar dalam hidup kita. Sebuah pertobatan yang mengubah arah, tetapi meninggalkan penyesalan yang perih. Sebuah kesetiaan yang berbuah, tetapi menuntut sesuatu yang tidak kembali. Kita berjalan terus, namun dengan langkah yang berbeda.
Pincangnya Yakub bukan aib. Itu tanda bahwa ia sungguh berjumpa dengan Allah dan tidak keluar sama seperti ketika ia masuk. Orang yang sungguh bergumul dengan Tuhan tak pernah pulang persis seperti semula.
Luka mana yang kita bawa hari ini, yang sebenarnya adalah tanda sebuah berkat?
Tuhan, aku tidak akan melepaskan-Mu sebelum Engkau memberkati aku. Dan jika berkat itu membuatku pincang, biarlah pincangku mengingatkan bahwa aku pernah berjumpa dengan-Mu. Amin.