‹ Semua renungan

Selasa, 17 Juni 2031

Semurah Matahari

Ada satu hal yang tidak bisa dibeli oleh orang paling kaya sekalipun: matahari pagi hanya untuk halaman rumahnya sendiri. Ketika matahari terbit, ia terbit untuk semua. Ketika hujan turun, ia membasahi sawah orang baik dan sawah orang yang menyebalkan tanpa membeda-bedakan. Alam ternyata lebih murah hati daripada hati manusia.

Itulah yang dipakai Yesus untuk menjelaskan kasih yang paling sulit. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Alasannya bukan supaya kita disebut orang suci, melainkan supaya kita menjadi anak-anak Bapa, yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik. Mengasihi yang mengasihi kita, kata-Nya, itu mudah; pemungut cukai pun bisa. Yang membedakan anak Allah adalah kasih yang melewati batas balas budi.

Bacaan pertama memberi contoh nyata. Jemaat di Makedonia sangat miskin, dicobai dengan berbagai penderitaan, tetapi justru memberi melampaui kemampuan mereka, dengan sukacita. Mereka tidak menunggu kaya dulu baru murah hati. Kemurahan mereka meluap bukan dari dompet yang tebal, melainkan dari hati yang sudah lebih dulu menerima kasih karunia.

Rupanya kasih yang sejati selalu sedikit tidak masuk akal. Ia memberi kepada yang tak membalas, mendoakan yang menyakiti, menyinari yang tidak layak. Persis seperti matahari yang tak pernah bertanya siapa yang pantas ia terangi.

Bapa, luaskanlah hatiku seluas matahari-Mu, supaya aku berani mengasihi bahkan yang paling sulit kukasihi. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →