Jumat, 13 Juni 2031
Retak yang Meloloskan Cahaya
Di pasar tradisional masih ada penjual gerabah: kendi, periuk, celengan tanah liat. Barang-barang itu murah, gampang retak, dan tidak ada yang menyimpannya di lemari kaca. Justru karena murahnya, orang berani memakainya sehari-hari tanpa takut.
Paulus memakai gambar ini untuk dirinya dan kita. “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Isinya harta, wadahnya tanah liat. Allah sengaja menaruh yang berharga di dalam yang rapuh, supaya tidak ada kekeliruan tentang siapa pemilik kekuatan itu.
Lalu Paulus meneruskan dengan deretan yang jujur: ditindas namun tidak terjepit, habis akal namun tidak putus asa, dianiaya namun tidak ditinggalkan, dihempaskan namun tidak binasa. Bejananya penuh retak, tetapi tidak pernah pecah berkeping habis. Retak itu bahkan berguna, sebab dari celahnya cahaya di dalam justru menyembur keluar.
Injil hari ini mengingatkan bahwa harta di dalam itu harus dijaga sampai ke akar hati. Yesus berbicara keras soal mata dan hasrat, karena tahu kerapuhan kita sering bocor lebih dulu di sana. Menjaga bejana bukan soal tampil kuat, melainkan soal setia menyimpan Yang berharga.
Kita sering malu pada keretakan kita. Paulus mengajak melihatnya terbalik: retak-retak itulah yang membuktikan bahwa cahaya di dalam bukan milik kita.
Tuhan, dalam kerapuhanku yang mudah retak, jagalah harta yang Kautaruh, dan biarlah cahaya-Mu tampak justru lewat celah-celahku. Amin.