Senin, 9 Juni 2031
Air yang Diteruskan
Ada pengalaman yang hanya bisa dibagikan oleh orang yang pernah mengalaminya. Seorang ibu yang pernah kehilangan anak tahu cara duduk diam di samping ibu lain yang baru kehilangan, tanpa banyak kata. Penghiburan yang paling menyembuhkan biasanya datang dari tangan yang sendiri pernah terluka.
Paulus membuka suratnya kepada jemaat Korintus dengan gambar itu. Ia menyebut Allah sebagai “Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami.” Tetapi ia tidak berhenti di situ. Allah menghibur kita, katanya, supaya kita sanggup menghibur orang lain dengan penghiburan yang kita terima sendiri. Penghiburan itu seperti air, dituang ke dalam kita bukan untuk menggenang, melainkan untuk mengalir keluar.
Dalam Injil, Yesus naik ke bukit dan mengucapkan Sabda Bahagia. Perhatikan siapa yang disebut berbahagia: yang miskin, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang dianiaya. Bukan mereka yang hidupnya mulus, melainkan mereka yang pernah remuk. “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”
Rupanya luka tidak pernah sia-sia di tangan Allah. Ia mengubah orang yang pernah terhibur menjadi penghibur. Pekan ini, barangkali ada satu orang yang sedang menanggung persis penderitaan yang dahulu pernah kita lewati. Kita mungkin justru orang yang paling tepat untuk duduk di sampingnya.
Tuhan, sumber penghiburan, apa yang telah Kaupulihkan dalam diriku, pakailah untuk memulihkan orang lain. Amin.