Minggu, 8 Juni 2031
Di Gerbang Nain
Ada satu kalimat yang tidak pernah menolong siapa pun ketika diucapkan sembarangan: “Jangan menangis.” Kepada orang yang baru kehilangan, kalimat itu sering terdengar kosong, bahkan menyakitkan. Maka menarik sekali bahwa justru kalimat itulah yang diucapkan Yesus di gerbang kota Nain.
Seorang janda mengantar jenazah. Bukan sekadar anak, melainkan anak tunggal, satu-satunya sandaran seorang perempuan yang sudah kehilangan suami. Di dunia tanpa jaminan sosial, kematian anak laki-laki itu berarti kemiskinan seumur hidup. Ketika Yesus melihatnya, Injil mencatat, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia tidak menunggu diminta. Ia menghampiri usungan, menyentuhnya, dan berkata kepada pemuda yang mati, “Bangkitlah!”
Kisah ini bukan yang pertama. Bacaan pertama membawa kita berabad-abad sebelumnya, kepada Nabi Elia yang juga membaringkan tubuh anak seorang janda dan berseru, “Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini.” Dua kisah, satu pola. Allah Perjanjian Lama dan Yesus dari Nazaret bergerak dengan hati yang sama terhadap janda dan anaknya.
Hari ini Gereja merayakan Tritunggal Mahakudus, satu Allah dalam tiga Pribadi. Ajaran ini gampang terasa seperti teka-teki matematika yang membingungkan. Tetapi kedua bacaan menolong kita. Allah yang kita sembah bukan rumus, melainkan hidup yang mengalir. Bapa yang menciptakan, Putra yang menyentuh usungan, Roh yang menghidupkan; satu gerak belas kasihan yang tak terputus dari zaman Elia sampai gerbang Nain, sampai ke hidup kita.
Paulus dalam bacaan kedua bersaksi bahwa Injilnya bukan karangan manusia. Ia menerimanya dari perjumpaan dengan Yang Hidup, Dia yang mengubah seorang penganiaya menjadi pewarta. Sekali lagi Allah yang sama: yang membangkitkan yang mati secara badani, juga membangkitkan yang telah mati secara batin.
Dan menariknya, kalimat Jangan menangis itu hanya sungguh kuat karena diucapkan oleh Dia yang kelak akan menangis sendiri di depan kubur Lazarus, bahkan menangisi kota Yerusalem. Bukan hiburan murahan dari orang yang tak pernah berduka, melainkan sabda dari Allah yang ikut merasakan air mata kita.
Kita mungkin sedang mengantar sesuatu ke kubur pekan ini. Sebuah harapan, sebuah relasi, sebuah bagian dari diri yang terasa sudah tak bernyawa. Allah Tritunggal bukan Allah yang menonton dari kejauhan. Ia Allah yang turun ke gerbang, tergerak, dan menyentuh apa yang kita kira sudah selesai.
Allah Tritunggal, Sumber kehidupan, sentuhlah apa yang mati dalam diriku dan kembalikan aku kepada mereka yang mengasihiku. Amin.