Kamis, 22 Mei 2031
Sesaat Saja
Hari ini kita merayakan Kenaikan Tuhan. Di terminal dan pelabuhan, adegan ini terulang setiap hari: yang berangkat melambai, yang mengantar berdiri menatap sampai kendaraan hilang di tikungan. Perpisahan selalu menyisakan mata yang terus memandang ke arah yang sama.
Para murid di bukit Zaitun juga berdiri menatap ke langit. Dan Injil hari ini, yang diucapkan Yesus pada malam perpisahan-Nya, sudah meramalkan kebingungan mereka: "Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku." Murid-murid saling berbisik: apa maksudnya sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksud-Nya.
Kenaikan memang mudah disalahpahami sebagai kepergian. Padahal justru sebaliknya. Selama tinggal di Galilea, Yesus hadir di satu tempat pada satu waktu. Yang berjumpa Dia di Kapernaum tidak bisa sekaligus menemui-Nya di Yerusalem. Dengan naik kepada Bapa, Ia tidak meninggalkan bumi; Ia melepaskan batas alamat. Kini Ia bisa ditemui di mana-mana: dalam Ekaristi dan dalam saudara yang paling kecil, pada abad pertama dan pagi ini. Mata kehilangan Dia sesaat. Iman menemukan Dia di mana-mana.
"Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita." Minggu lalu kita mendengar Yesus berbicara tentang sukacita yang penuh. Hari ini kita tahu jalannya: sukacita itu lahir justru lewat perpisahan, yang diubah-Nya menjadi kehadiran yang lebih luas.
Bacaan pertama menunjukkan bentuk nyata kehadiran baru itu. Paulus tiba di Korintus, kota pelabuhan yang riuh. Ia menumpang pada Akwila dan Priskila, dan bekerja bersama mereka sebagai tukang kemah. Tuhan yang naik ke surga hadir di Korintus lewat tangan yang menjahit kemah, lewat rumah yang dibuka, lewat percakapan setiap hari Sabat. Kristus tidak lagi berjalan sendirian di satu jalan di Palestina; Ia berjalan lewat ribuan kaki para murid-Nya.
Maka pertanyaan Kenaikan bukan "ke mana Ia pergi", melainkan "lewat siapa Ia sekarang mau hadir". Jawabannya menatap kita di cermin. Tangan kita yang bekerja, rumah kita yang terbuka, kata-kata kita yang menghibur: itulah cara Tuhan yang naik tetap membumi.
Jangan menatap langit terlalu lama. Ada Korintus yang menunggu.
Tuhan yang naik ke surga, Engkau tidak pergi, Engkau meluas. Jadikanlah tanganku, rumahku, dan kata-kataku tempat Engkau hadir hari ini. Amin.