‹ Semua renungan

Selasa, 20 Mei 2031

Nyanyian Tengah Malam

Orang bisa menyanyi karena gembira. Tetapi ada nyanyian jenis lain: nyanyian orang yang memutuskan untuk tidak kalah. Petani menembang di sawah yang kering. Ibu bersenandung menunggui anaknya yang sakit. Nadanya sederhana, tetapi itu perlawanan.

Dari rumah Lidia yang terbuka kemarin, kisah di Filipi hari ini berpindah ke tempat yang paling tertutup: penjara. Paulus dan Silas didera berkali-kali, dimasukkan ke ruang paling tengah, kaki dipasung. Kalau ada waktu yang pantas untuk mengeluh, inilah waktunya. Tetapi kira-kira tengah malam, dari sel paling gelap itu, terdengar doa dan puji-pujian. Dan Lukas menambahkan catatan kecil yang menakjubkan: orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.

Sebelum gempa mengguncang sendi-sendi penjara, pujian sudah lebih dulu mengguncang malam itu. Kesaksian yang paling keras kadang bukan khotbah, melainkan cara kita menanggung derita.

Kepala penjara yang keras akhirnya membasuh bilur mereka dan memberi diri dibaptis bersama seisi rumahnya. Semuanya berawal dari dua tahanan yang memilih menyanyi.

Kita pun punya tengah malam masing-masing: pasungan utang, penjara kecemasan. Mengeluh itu wajar. Tetapi cobalah sesekali menggantinya dengan madah. Hati yang memuji sulit dikunci.

Tuhan, ajarilah aku bernyanyi di tengah malamku, sebab pujian membuka apa yang dikunci ketakutan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →