‹ Semua renungan

Senin, 5 Mei 2031

Meja yang Diperlebar

Di banyak rumah, meja makan adalah pengadilan diam-diam. Siapa boleh ikut duduk, siapa cukup di teras. Makan bersama artinya menerima. Menolak semeja artinya menolak orangnya.

Karena itulah Petrus digugat dalam bacaan pertama: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka." Bagi jemaat di Yerusalem, itu pelanggaran batas. Petrus lalu bercerita tentang penglihatannya: kain lebar berisi segala jenis binatang, dan suara dari surga, "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram."

Tiga kali penglihatan itu diulang. Rupanya prasangka memang bandel; sekali saja tidak cukup.

Petrus menutup pembelaannya dengan pertanyaan yang menusuk: jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia? Yang berubah bukan Allah. Yang harus berubah adalah lebar meja kita.

Injil hari ini menyebut Yesus sebagai pintu: barangsiapa masuk melalui Dia akan selamat. Pintu itu satu, tetapi terbuka bagi siapa saja yang mau masuk.

Adakah orang yang diam-diam kita anggap tidak layak duduk semeja? Karena masa lalunya, sukunya, pilihan hidupnya? Allah sudah lebih dulu menyambut mereka.

Tuhan, bongkarlah pagar dalam hatiku, dan perlebarlah mejaku seluas hati-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →