Rabu, 30 April 2031
Tongkat yang Harus Diberikan
Dalam lari estafet, kemenangan tidak ditentukan oleh siapa yang berlari paling kencang, melainkan oleh perpindahan tongkat. Bila tongkat itu jatuh saat berpindah tangan, semuanya sia-sia. Tongkat itu memang bukan untuk disimpan. Ia harus diterima, dibawa sebentar, lalu diberikan kepada pelari berikutnya.
Rasul Paulus memakai bahasa yang mirip ketika menulis kepada jemaat Korintus. 'Yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri.' Ia menerima, lalu meneruskan. Isi tongkat itu adalah inti iman kita, bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, telah dikuburkan, dan telah dibangkitkan pada hari yang ketiga. Ia diberikan dari tangan ke tangan, dari para rasul kepada bapa-bapa Gereja, sampai kepada orang tua dan katekis yang mewariskannya kepada kita.
Paulus jujur bahwa ia menerima tongkat itu paling akhir, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Ia merasa tak layak, sebab pernah menganiaya Gereja. Tetapi rahmat Tuhan tetap mempercayakan tongkat itu ke tangannya. Yang penting bukan seberapa layak kita, melainkan bahwa kita mau meneruskannya.
Injil hari ini menegaskan ke arah mana lari itu menuju. 'Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.' Tongkat yang kita bawa bukan sekadar ajaran, melainkan sebuah Pribadi. Kita meneruskan bukan teori, melainkan Yesus sendiri.
Kepada siapa hari ini kita dipercaya meneruskan tongkat iman yang telah kita terima dengan cuma-cuma?
Tuhan, aku menerima iman ini dari tangan orang-orang sebelum aku. Berilah aku kesetiaan untuk meneruskannya, jangan sampai jatuh di tanganku. Amin.