Selasa, 29 April 2031
Berani di Depan yang Berkuasa
Tidak banyak orang berani berkata benar di depan orang yang berkuasa. Maka mereka yang tetap berani berkata benar, walau nyawanya terancam, selalu menjadi tanda bahwa ada yang lebih mereka takuti daripada manusia.
Stefanus adalah salah satunya. Di depan Mahkamah Agama, ia tidak melunak. Ia menyebut dosa mereka terang-terangan, sampai hati mereka tertusuk dan gigi mereka gemertak. Namun ketika batu mulai berhamburan menimpanya, ia tidak membalas dengan kutuk. Ia berdoa, 'Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka,' persis seperti Guru-nya di kayu salib. Dan di dekat situ berdiri seorang muda bernama Saulus, menyetujui pembunuhan itu, tanpa tahu bahwa kelak ia sendiri akan diubah.
Hari ini Gereja mengenang Santa Katarina dari Siena, seorang perempuan sederhana yang berani menulis surat menegur para paus dan penguasa pada zamannya. Ia tidak berpendidikan tinggi, tetapi hatinya dikuatkan oleh keakraban dengan Tuhan. Seperti Stefanus, keberaniannya lahir bukan dari kesombongan, melainkan dari iman.
Dari mana datang keberanian seperti itu? Injil hari ini memberi jawabannya. 'Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi.' Orang yang dikenyangkan oleh Kristus tidak lagi kelaparan akan pujian atau rasa aman dari manusia. Justru karena sudah kenyang oleh Dia, mereka bebas untuk berkata benar.
Adakah kebenaran yang kita tahan karena takut pada mereka yang berkuasa atas hidup kita?
Tuhan, kenyangkanlah aku dengan Engkau, roti hidup, agar aku bebas dari rasa takut dan berani berkata benar. Amin.