‹ Semua renungan

Jumat, 11 April 2031

Jubah yang Tak Dirobek

Hari ini Gereja berdiam. Tidak ada perayaan Ekaristi, hanya kisah sengsara, salib yang dihormati, dan keheningan yang panjang. Di tengah kisah yang penuh kekerasan itu, Yohanes menyelipkan satu detail kecil yang mudah terlewat, tentang sehelai jubah.

Setelah menyalibkan Yesus, para prajurit membagi pakaian-Nya menjadi empat, seorang satu bagian. Tetapi ada satu potong yang membuat mereka ragu. Jubah-Nya tidak berjahit, ditenun dari atas ke bawah dalam satu tenunan utuh. Merobeknya berarti merusaknya. Maka mereka berkata, 'Janganlah kita membaginya, tetapi baiklah kita membuang undi.' Segala sesuatu pada Yesus hari itu dirobek. Kulit-Nya dikoyak cambuk. Tangan-Nya ditembus paku. Lambung-Nya ditikam tombak. Hanya jubah itu yang tetap utuh, tidak terobek.

Siapa pun yang pernah menenun tahu, kain tanpa jahit dikerjakan dengan sabar, benang demi benang, dari atas sampai bawah, tanpa sambungan. Para bapa Gereja sejak dahulu melihat jubah itu sebagai lambang. Tubuh Kristus, yakni Gereja, dimaksudkan tetap satu, tidak untuk dirobek-robek. Di kaki salib, ketika segala sesuatu tampak hancur, ada sesuatu yang justru dijaga tetap utuh.

Nabi Yesaya sudah melihatnya jauh sebelumnya. 'Ia dianiaya, tetapi ia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya, seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian.' Ia yang dikoyak justru menjadi yang menyatukan. Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh. Yang terobek pada tubuh-Nya menenun kembali yang terpisah di antara kita.

Surat Ibrani menegaskan bahwa Ia bukan Imam yang jauh. Ia telah mempersembahkan doa dengan ratap tangis dan keluhan. Ia menanggung semuanya bukan dari kejauhan, melainkan dari dalam, sampai ke dasar.

Hari ini kita memandang salib. Segala yang paling suci dibiarkan dirobek, supaya kita yang tercerai-berai bisa disatukan kembali menjadi satu tenunan. Betapa mahal harga keutuhan itu.

Ada yang berdiri di kaki salib sampai akhir, ketika hampir semua sudah lari. Bunda-Nya, dan murid yang dikasihi-Nya. Kepada mereka Yesus mempercayakan satu sama lain. Bahkan dari atas kayu, dalam sakit yang paling dalam, Ia masih memikirkan siapa yang akan saling menjaga sesudah Ia pergi. Cinta-Nya tidak pernah berhenti mengikat yang terpisah menjadi satu.

Ketika kita begitu mudah merobek persaudaraan demi ego kita, beranikah kita memandang jubah yang Ia jaga tetap utuh sampai ke salib?

Tuhan Yesus, oleh tubuh-Mu yang dirobek, satukanlah kami yang terpecah. Jagailah kami tetap utuh dalam Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →