Senin, 31 Maret 2031
Yang Ditulis di Tanah
Ada satu detail dalam kisah ini yang tidak pernah dijelaskan, dan justru karena itu terus menggoda kita. Ketika para penuduh menyeret perempuan yang berbuat zinah, Yesus tidak langsung menjawab. Ia membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah. Injil tidak memberi tahu apa yang Ia tulis. Satu-satunya kali Yesus tercatat menulis, dan isinya dirahasiakan.
Mungkin justru itu maksudnya. Ia menulis di tanah, bukan di batu. Tulisan di tanah gampang terhapus. Sekali angin bertiup, sekali kaki melangkah, hilang. Berbeda dengan tuduhan para ahli Taurat yang seolah ingin memahat kesalahan perempuan itu pada batu, kekal, tak terhapuskan.
Sementara mereka memegang batu untuk melempar, Yesus menunduk menulis di debu. Dua tangan, dua cara memperlakukan dosa. Yang satu ingin mengabadikan, yang lain siap menghapus.
Lalu Ia berdiri dan berkata, 'Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu.' Satu per satu mereka pergi, mulai dari yang tertua. Batu-batu itu jatuh dari tangan yang tadinya begitu yakin.
Akhirnya tinggal Yesus dan perempuan itu. Dan Ia berkata, 'Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.'
Kita sering lebih suka menulis kesalahan orang di batu dan menulis kesalahan kita sendiri di tanah. Yesus mengajarkan yang sebaliknya.
Kesalahan siapa yang masih kita pahat di batu, padahal Tuhan sudah menuliskannya di tanah?
Tuhan, ajarilah aku menghapus, bukan memahat. Perlakukan dosaku, dan dosa sesamaku, seperti tulisan di tanah yang Kauhapus. Amin.